digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perusahaan yang berorientasi pada keberlanjutan (sustainability-driven enterprises) di negara berkembang harus secara simultan mengejar tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Mereka melakukannya dalam kondisi kekosongan kelembagaan (institutional voids), keterbatasan sumber daya, dan pasar yang tidak stabil, yaitu kondisi di mana teori kapabilitas dinamis (dynamic capabilities) konvensional tidak sepenuhnya sesuai untuk diterapkan. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran eksploratori sekuensial dengan dominasi pendekatan kualitatif (exploratory sequential, qualitatively dominant mixed-methods) di Indonesia. Penelitian diawali dengan membangun dan mengontekstualisasikan kembali model kapabilitas tingkat perusahaan melalui wawancara terhadap sepuluh pakar dan praktisi yang dianalisis menggunakan metode Gioia. Model tersebut kemudian diuji melalui survei terhadap karyawan pada perusahaan yang berorientasi pada keberlanjutan di Indonesia dengan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM), melibatkan sampel utama sebanyak 239 responden dari 33 perusahaan berorientasi keberlanjutan, serta sampel uji ketahanan (robustness sample) sebanyak 256 responden. Tahap kualitatif menemukan bahwa kapabilitas-kapabilitas tersebut beroperasi sebagai satu sistem yang terintegrasi. Kapabilitas sensing terintegrasi dengan pengelolaan risiko, seizing bersifat hemat sumber daya (frugal) dan berbasis bricolage, sedangkan transforming berlandaskan pada nilai-nilai inti organisasi. Kepemimpinan generatif (generative leadership) serta manajemen pengetahuan lintas generasi menjaga agar sistem tersebut terus diperbarui dan beradaptasi. Di balik kapabilitas-kapabilitas tersebut terdapat mikrofondasi kontekstual yang umumnya tidak diakomodasi dalam teori yang dikembangkan di negara maju, yaitu dorongan spiritual dan moral sebagai landasan nilai, jaringan informal sebagai basis modal sosial manajerial, social bricolage sebagai mekanisme utama dalam seizing, serta suksesi yang dirancang secara sengaja. Seluruh mikrofondasi ini didukung oleh bukti yang muncul secara spontan dari wawancara dan ditelusuri melalui audit asal-usul data (provenance audit) yang jelas. Tahap kuantitatif mengonfirmasi model pengukuran kapabilitas yang valid dan memiliki reliabilitas sangat tinggi, dengan indikator-indikator yang saling berkaitan secara erat sehingga kapabilitas tersebut berperilaku sebagai satu sistem yang terintegrasi kuat. Kapabilitas, khususnya kapabilitas dinamis (dynamic capability), memiliki hubungan positif dengan persepsi terhadap kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan hubungan terkuat pada kinerja ekonomi dan terlemah pada kinerja sosial. Pada tingkat agregat, persepsi terhadap kapabilitas dan persepsi terhadap dampak tidak dapat dibedakan secara empiris, yang mencerminkan efek common-method halo yang lazim ditemukan pada data persepsi yang berasal dari satu sumber. Oleh karena itu, penelitian ini melaporkan model orde pertama (first order model) yang mempertahankan ketiga dimensi hasil secara terpisah dan menafsirkan hubungan tersebut sebagai asosiasi dalam kerangka persepsi yang sama, yang telah diverifikasi menggunakan tolok ukur objektif (objective anchor). Karena responden dikelompokkan dalam perusahaan masing-masing, ukuran sampel efektif menjadi sekitar 71. Dalam model ini, jalur dari nilai-nilai (values) menuju budaya organisasi (culture), kemudian menuju kapabilitas dinamis, serta jalur dari kapabilitas dinamis menuju ketiga dimensi kinerja, seluruhnya terbukti signifikan. Hubungan yang kuat tersebut tetap konsisten meskipun dianalisis menggunakan ukuran sampel yang telah direduksi. Selain itu, model juga menunjukkan kemampuan prediktif yang nyata melalui pengujian cross-validation. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa pemahaman mengenai kapabilitas dinamis yang telah dikontekstualisasikan, dipandang sebagai suatu sistem yang terintegrasi, serta dijelaskan melalui mikrofondasinya dalam konteks keberlanjutan di negara berkembang, disertai dengan metode validasi yang transparan. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kepada perusahaan-perusahaan di negara berkembang suatu model kapabilitas keberlanjutan yang dibangun berdasarkan realitas mereka sendiri, bukan sekadar mengadopsi model yang dikembangkan dari konteks negara lain. Kata Kunci: perusahaan berorientasi keberlanjutan (sustainability-driven enterprise); kapabilitas dinamis (dynamic capabilities); mikrofondasi (microfoundations); negara berkembang (emerging economy); kekosongan kelembagaan (institutional voids); inovasi hemat sumber daya (frugal innovation); Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS SEM); Indonesia.