Perusahaan yang berorientasi pada keberlanjutan (sustainability-driven enterprises)
di negara berkembang harus secara simultan mengejar tujuan ekonomi, sosial, dan
lingkungan. Mereka melakukannya dalam kondisi kekosongan kelembagaan
(institutional voids), keterbatasan sumber daya, dan pasar yang tidak stabil, yaitu
kondisi di mana teori kapabilitas dinamis (dynamic capabilities) konvensional tidak
sepenuhnya sesuai untuk diterapkan. Penelitian ini menggunakan desain metode
campuran eksploratori sekuensial dengan dominasi pendekatan kualitatif
(exploratory sequential, qualitatively dominant mixed-methods) di Indonesia.
Penelitian diawali dengan membangun dan mengontekstualisasikan kembali model
kapabilitas tingkat perusahaan melalui wawancara terhadap sepuluh pakar dan
praktisi yang dianalisis menggunakan metode Gioia. Model tersebut kemudian diuji
melalui survei terhadap karyawan pada perusahaan yang berorientasi pada
keberlanjutan di Indonesia dengan menggunakan Partial Least Squares Structural
Equation Modelling (PLS-SEM), melibatkan sampel utama sebanyak 239
responden dari 33 perusahaan berorientasi keberlanjutan, serta sampel uji
ketahanan (robustness sample) sebanyak 256 responden.
Tahap kualitatif menemukan bahwa kapabilitas-kapabilitas tersebut beroperasi
sebagai satu sistem yang terintegrasi. Kapabilitas sensing terintegrasi dengan pengelolaan risiko, seizing bersifat hemat sumber daya (frugal) dan berbasis
bricolage, sedangkan transforming berlandaskan pada nilai-nilai inti organisasi.
Kepemimpinan generatif (generative leadership) serta manajemen pengetahuan
lintas generasi menjaga agar sistem tersebut terus diperbarui dan beradaptasi. Di
balik kapabilitas-kapabilitas tersebut terdapat mikrofondasi kontekstual yang
umumnya tidak diakomodasi dalam teori yang dikembangkan di negara maju, yaitu
dorongan spiritual dan moral sebagai landasan nilai, jaringan informal sebagai basis
modal sosial manajerial, social bricolage sebagai mekanisme utama dalam seizing,
serta suksesi yang dirancang secara sengaja. Seluruh mikrofondasi ini didukung
oleh bukti yang muncul secara spontan dari wawancara dan ditelusuri melalui audit
asal-usul data (provenance audit) yang jelas.
Tahap kuantitatif mengonfirmasi model pengukuran kapabilitas yang valid dan
memiliki reliabilitas sangat tinggi, dengan indikator-indikator yang saling berkaitan
secara erat sehingga kapabilitas tersebut berperilaku sebagai satu sistem yang
terintegrasi kuat. Kapabilitas, khususnya kapabilitas dinamis (dynamic capability),
memiliki hubungan positif dengan persepsi terhadap kinerja ekonomi, sosial, dan
lingkungan, dengan hubungan terkuat pada kinerja ekonomi dan terlemah pada
kinerja sosial. Pada tingkat agregat, persepsi terhadap kapabilitas dan persepsi
terhadap dampak tidak dapat dibedakan secara empiris, yang mencerminkan efek
common-method halo yang lazim ditemukan pada data persepsi yang berasal dari
satu sumber. Oleh karena itu, penelitian ini melaporkan model orde pertama (first
order model) yang mempertahankan ketiga dimensi hasil secara terpisah dan
menafsirkan hubungan tersebut sebagai asosiasi dalam kerangka persepsi yang
sama, yang telah diverifikasi menggunakan tolok ukur objektif (objective anchor).
Karena responden dikelompokkan dalam perusahaan masing-masing, ukuran
sampel efektif menjadi sekitar 71. Dalam model ini, jalur dari nilai-nilai (values)
menuju budaya organisasi (culture), kemudian menuju kapabilitas dinamis, serta
jalur dari kapabilitas dinamis menuju ketiga dimensi kinerja, seluruhnya terbukti
signifikan. Hubungan yang kuat tersebut tetap konsisten meskipun dianalisis
menggunakan ukuran sampel yang telah direduksi. Selain itu, model juga
menunjukkan kemampuan prediktif yang nyata melalui pengujian cross-validation.
Penelitian ini memberikan kontribusi berupa pemahaman mengenai kapabilitas dinamis yang telah dikontekstualisasikan, dipandang sebagai suatu sistem yang
terintegrasi, serta dijelaskan melalui mikrofondasinya dalam konteks keberlanjutan
di negara berkembang, disertai dengan metode validasi yang transparan. Dengan
demikian, penelitian ini menawarkan kepada perusahaan-perusahaan di negara
berkembang suatu model kapabilitas keberlanjutan yang dibangun berdasarkan
realitas mereka sendiri, bukan sekadar mengadopsi model yang dikembangkan dari
konteks negara lain.
Kata Kunci: perusahaan berorientasi keberlanjutan (sustainability-driven
enterprise); kapabilitas dinamis (dynamic capabilities); mikrofondasi
(microfoundations); negara berkembang (emerging economy); kekosongan
kelembagaan (institutional voids); inovasi hemat sumber daya (frugal
innovation); Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS
SEM); Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB