digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Angelina Trie Surya
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

bertujuan mengevaluasi kelayakan fungsional scaffold PVA–spidroin sebagai kandidat material penutup luka melalui pengujian sifat mekanik, aktivitas antibakteri, respon biologis Human Dermal Fibroblast (HDF), serta respon inflamasi secara in vitro. Scaffold dievaluasi melalui uji tarik berbasis dead-weight loading, uji antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, uji proliferasi MTT, scratch assay, uji Griess, serta pengukuran interleukin-6 (IL-6) menggunakan ELISA. Hasil pengujian menunjukkan bahwa scaffold dan cocoon menghambat pertumbuhan Escherichia coli dengan diameter zona hambat rata-rata masing-masing sebesar 5,45 mm dan 2,80 mm, tetapi tidak menunjukkan penghambatan terhadap Staphylococcus aureus, yang mengindikasikan aktivitas antibakteri selektif pada kondisi pengujian. Pada pengujian mekanik pendahuluan, scaffold memiliki tegangan maksimum sebesar 0,19–0,32 MPa dan elongasi sebesar 33–61%, yang menunjukkan kemampuan menerima beban sekaligus mengalami deformasi sebelum putus. Hasil uji MTT menunjukkan bahwa aktivitas metabolik HDF pada scaffold dan cocoon meningkat hingga mencapai nilai tertinggi pada hari ke-5, kemudian menurun hingga hari ke-9, tetapi nilai absorbansi terkoreksi tetap positif sehingga menunjukkan bahwa aktivitas metabolik sel masih terpelihara pada kedua material. Pada scratch assay, penutupan area scratch meningkat secara signifikan seiring waktu (p < 0,001) dan mencapai sekitar 79–80% pada 48 jam, sedangkan perbedaan antarperlakuan tidak signifikan, yang menunjukkan bahwa conditioned medium kedua material tidak menghambat migrasi HDF. Uji Griess menunjukkan bahwa kelompok LPS 1 ?g/mL menghasilkan konsentrasi nitrit sebesar 60,1 ?M, sedangkan kelompok LPS dengan cocoon dan scaffold masing-masing menghasilkan 47,0 ?M dan 36,0 ?M. Penurunan pada kelompok scaffold berbeda signifikan dibandingkan kelompok LPS (p_adj = 0,021), sehingga memberikan indikasi awal adanya modulasi produksi NO. Hasil ELISA menunjukkan bahwa kelompok LPS dengan conditioned medium scaffold menghasilkan kadar IL-6 yang lebih tinggi dibandingkan kelompok LPS pada 24 jam, tetapi kemudian mengalami penurunan signifikan pada 48 jam. Sementara itu, kadar IL-6 pada kelompok cocoon tetap tinggi dan pada 48 jam lebih tinggi dibandingkan kelompok LPS. Dengan demikian, kedua material belum menunjukkan efek antiinflamasi melalui penekanan IL-6 hingga 48 jam, meskipun penurunan IL-6 pada kelompok scaffold mengindikasikan bahwa respons proinflamasi awal mulai mereda seiring waktu. Secara keseluruhan, scaffold PVA–spidroin menunjukkan karakteristik mekanik awal, aktivitas penghambatan terhadap E. coli, dan sitokompatibilitas awal terhadap HDF, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai kandidat biomaterial penutup luka dengan pengujian mekanik, antibakteri, dan respons inflamasi lebih lanjut.