Konflik psikologis pada sebuah ruang domestik menghadirkan kondisi khusus di
mana penghadiran benda-benda (goods) yang pada mulanya berperan sebagai
pemenuhan kebutuhan sehari-hari kemudian menjadi sarana untuk meredam
tekanan emosional, mengalihkan perhatian, bahkan mengisi kekosongan yang tidak
mampu diungkapkan secara verbal. Ketergantungan akan benda-benda secara
berlebihan ini kemudian menciptakan akumulasi yang seiring waktu
menghilangkan fungsi praktisnya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa
hubungan manusia dengan benda tidak dapat dipahami hanya melalui aspek
utilitarian. Melalui perspektif psikoanalisis, subjek dan objek justru memiliki
inverted relationship, di mana objek yang ditemukan memperoleh subjektivitas
tertentu karena berfungsi sebagai kompensasi atas pengalaman kekurangan,
kehilangan, atau ketidakutuhan yang dialami subjek. Perubahan kedudukan objek
tersebut juga membolehkan pencerapan terhadap benda-benda yang bertumpuk
hingga menunjukkan kualitas formal seperti warna, bentuk, ukuran dan susunan
sehingga menghasilkan interpretasi baru. Benda-benda domestik kemudian
direkontekstualisasikan untuk menyingkap hubungan timbal balik antara subjek
dan objek sebagai praktik penciptaan seni. Melalui penghadiran objek temuan
secara langsung, fenomena inverted relationship yang termaterialisasi dalam
benda-benda domestik direpresentasikan secara visual melalui penyusunan objek
temuan dengan konfigurasi baru pada macam-macam furnitur. Karya seni ini dalam
bentuk finalnya kemudian membuka kemungkinan bagi pengamat untuk
membangun pembacaan baru mengenai hubungan timbal balik antara subjek dan
objek berdasarkan asosiasi individu. Melalui pengalaman pencerapan tersebut,
karya seni ini membolehkan pembacaan dengan perspektif disinterestedness
sehingga objek temuan yang dihadirkan memperoleh kualitas puitik yang otonom.
Perpustakaan Digital ITB