digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Konflik psikologis pada sebuah ruang domestik menghadirkan kondisi khusus di mana penghadiran benda-benda (goods) yang pada mulanya berperan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari kemudian menjadi sarana untuk meredam tekanan emosional, mengalihkan perhatian, bahkan mengisi kekosongan yang tidak mampu diungkapkan secara verbal. Ketergantungan akan benda-benda secara berlebihan ini kemudian menciptakan akumulasi yang seiring waktu menghilangkan fungsi praktisnya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan benda tidak dapat dipahami hanya melalui aspek utilitarian. Melalui perspektif psikoanalisis, subjek dan objek justru memiliki inverted relationship, di mana objek yang ditemukan memperoleh subjektivitas tertentu karena berfungsi sebagai kompensasi atas pengalaman kekurangan, kehilangan, atau ketidakutuhan yang dialami subjek. Perubahan kedudukan objek tersebut juga membolehkan pencerapan terhadap benda-benda yang bertumpuk hingga menunjukkan kualitas formal seperti warna, bentuk, ukuran dan susunan sehingga menghasilkan interpretasi baru. Benda-benda domestik kemudian direkontekstualisasikan untuk menyingkap hubungan timbal balik antara subjek dan objek sebagai praktik penciptaan seni. Melalui penghadiran objek temuan secara langsung, fenomena inverted relationship yang termaterialisasi dalam benda-benda domestik direpresentasikan secara visual melalui penyusunan objek temuan dengan konfigurasi baru pada macam-macam furnitur. Karya seni ini dalam bentuk finalnya kemudian membuka kemungkinan bagi pengamat untuk membangun pembacaan baru mengenai hubungan timbal balik antara subjek dan objek berdasarkan asosiasi individu. Melalui pengalaman pencerapan tersebut, karya seni ini membolehkan pembacaan dengan perspektif disinterestedness sehingga objek temuan yang dihadirkan memperoleh kualitas puitik yang otonom.