digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sepak bola Indonesia merepresentasikan fenomena sosio-kultural mendalam yang melampaui sekadar olahraga, berperan sebagai wadah identitas regional dan kebanggaan nasional. Persib Bandung, salah satu klub sepak bola paling ikonik dan bersejarah di tanah air, menjadi sosok sentral dalam lanskap ini dengan dukungan basis massa yang masif, yakni sekitar 14 juta penggemar yang dikenal sebagai "Bobotoh." Seiring dengan pergeseran ekonomi olahraga global menuju transformasi digital, PT Persib Bandung Bermartabat berupaya memodernisasi keterlibatan penggemar dengan meluncurkan "Planet Persib" pada Februari 2024. Platform keanggotaan digital pelopor ini dirancang untuk memonetisasi keterlibatan penggemar dan memperdalam loyalitas melalui manfaat eksklusif dan integrasi digital. Namun, meskipun tingkat kesadaran (awareness) mencapai 99% di kalangan pendukung, muncul kesenjangan adopsi yang signifikan di mana hanya 7% dari mereka yang sadar benar-benar berlangganan layanan tersebut. Kesenjangan yang mencolok ini menghadirkan persoalan ilmiah dan bisnis yang kritis, karena menyoroti friksi antara strategi digital korporat modern dengan budaya penggemar akar rumput tradisional yang mengakar kuat di pasar berkembang. Penelitian ini menyelidiki penyebab mendasar dari rendahnya adopsi tersebut dengan mengeksplorasi hambatan fungsional dan psikologis yang menghalangi Bobotoh untuk menerima platform tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang ketat, studi ini diawali dengan survei kuantitatif pendahuluan yang melibatkan 340 responden untuk memvalidasi masalah penelitian. Tahap ini dilanjutkan dengan fase pengumpulan data utama yang terdiri dari wawancara mendalam semi-terstruktur dengan 10 partisipan yang dipilih secara purposif, mewakili kelompok pengadopsi (adopters) dan non-pengadopsi. Data dianalisis melalui pengodean tematik yang difasilitasi oleh perangkat lunak NVivo untuk mengidentifikasi pola dan sentimen yang berulang. Penelitian ini didasarkan pada kerangka teoretis yang mengintegrasikan Innovation Resistance Theory (IRT), Theory of Planned Behavior (TPB), Diffusion of Innovations (DOI), dan Social Identity Theory (SIT), yang memberikan lensa multidimensi untuk memeriksa fenomena resistensi tersebut. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa resistensi terhadap Planet Persib tidak semata-mata bersifat finansial, melainkan didorong oleh lima hambatan tematik utama. Pertama, adanya hambatan penggunaan dan nilai yang signifikan akibat titik harga sebesar Rp5,5 juta yang dianggap eksklusif dan tidak konsisten dengan akar "kerakyatan" klub. Kedua, ditemukan kurangnya relevansi manfaat, terutama bagi penggemar yang berdomisili di luar Bandung yang tidak dapat mengakses fasilitas fisik, sehingga menyebabkan "penundaan" adopsi. Ketiga, studi ini menyoroti konflik mendalam antara keanggotaan digital formal dengan identitas "Bobotoh" tradisional yang organik, di mana penggemar khawatir komersialisasi digital dapat mengikis autentisitas dukungan mereka. Keempat, pengaruh sosial negatif dari kelompok sebaya dan komunitas pendukung bertindak sebagai pencegah, karena budaya kolektif sering kali memandang platform tersebut dengan skeptisisme. Terakhir, masalah kepercayaan dan komunikasi terkait pemenuhan janji manfaat jangka panjang semakin memperburuk hambatan psikologis berupa risiko. Sebaliknya, studi ini mengidentifikasi bahwa segmen kecil pengadopsi utamanya dipicu oleh imbalan ekstrinsik, seperti prestise sosial dan keinginan untuk mendapatkan barang koleksi fisik eksklusif seperti jersei edisi terbatas. Berdasarkan wawasan ini, penelitian menyimpulkan bahwa agar inovasi digital berhasil dalam budaya olahraga lokal, klub harus bergerak melampaui strategi "one-size-fits-all." Studi ini mengusulkan peta jalan strategis bagi Persib Bandung dengan merekomendasikan adopsi struktur harga bertingkat yang inklusif dan model keanggotaan khusus digital yang mengakomodasi keragaman demografi geografis dan ekonomi Bobotoh. Dengan menghormati kecerdasan budaya lokal dan memprioritaskan inklusivitas di atas eksklusivitas, klub dapat menjembatani kesenjangan antara inovasi dan loyalitas penggemar. Akhirnya, penelitian ini berkontribusi pada diskursus akademik yang lebih luas mengenai transformasi digital dalam manajemen olahraga, yang menunjukkan bahwa keberhasilan suatu platform bergantung pada keselarasan dengan identitas sosial penggunanya.