digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Dengan keluarnya peraturan dari pemerintah untuk menanggulangi terjadinya pembangunan enara telekomunikasi dimana-mana atau hutan Bts (menara telekomunikasi), yaitu raturan Bersama Menteri Dalam Negeri No. 18/2009, Menteri Pekerjaan Umum No. OPRT/M/2009, Menkominfo No. 19/PER/M.Kominfo/3/2009, dan Kepala BKPM No. 3/2009 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara Telekomunikasi ditetapkan dan mulai berlaku pada 30 Maret 2009. PT. INDONUSA MORA PERKASA sebagai perusahaan yang awalnya hanya bergerak sebagi kontraktor pembangun menara kemudian mengembangkan bisnisnya ke penyewaan menara. Model bisnis yang ditawarkan oleh PT. INDONUSA MORA PERKASA adalah membangun menara-menara dan menawarkan jasa penyewaan kepada operator-operator telekomunikasi. yar Tujuan dari proyek akhir ini adalah untuk menganalisis dan mengukur tingkat kewirausahaan dalam perusahaan (intrapreneurship) pada PT. INDONUSA MORA PERKASA dan menganalisis kategori kepemimpinan entrepreneurial yang ada pada PT. INDONUSA MORA PERKASA dan menilai tingkat pelaksanaan oleh para pemimpin di perusahaan sebagai tolak ukur dari kepuasaan karyawan terhadap para pemimpin di perusahaan tersebut. Selain untuk menganalisis dan mengukur nilai kewirausahaan dan kategori kepemimpinan di perusahaan diharapkan proyek ini juga dapat menjawab masalah-masalah yang dihadapi perusahaaan berdasarkan hasil observasi lapangan. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder, data primer didapat dengan menggunakan 2 jenis kuesioner yaitu Entrepreneurial Orientation Survey (EOS) dan Entrepreneurial Leadership Questionnaire (ELQ). Sedangkan data sekunder didapat dari profil perusahaan, studi literatur, internet, dan lain-lainnya. Hasil penelitian EOS yang dilakukan di PT. INDONUSA MORA PERKASA menunjukkan tingkat corporate entreprenurship pada PT. INDONUSA MORA PERKASA sudah tergolong baik dengan hasil 77,7% dari 9 dimensi yang diukur tergolong baik dan 22,3% tergolong dalam kategori rata-rata dengan nilai tertinggi pada dimensi "Kecepatan" dan nilai terendah oleh dimensi "Risiko". Dan dari hasil ELQ perusahaan juga sudah menunjukan nilai tinggi pada rencana dan implementasi dari keseluruhan kategori kepemimpinan dengan nilai tertinggi pada kategori kepemimpinan "Miner" dan "Integrator", sedangkan nilai terendah pada kategori kepemimpinan "Accelerator". Rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan nilai dari corporate entrepreneurship pada PT. INDONUSA MORA PERKASA dapat dilakukan dengan cara memberikan kebebasan lebih dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan nilai pada dimensi terendah yaitu dimensi "Risiko". Sedangkan untuk kategori kepemimpinan, dapat dengan cara meningkatkan tingkat pelaksanaan pada kategori "Accelerator" yang memiliki nilai pelaksanaan terendah diantara kategori kepemimpinan. Kata kunci: entrepreneurship, intrapreneurship, EOS, ELQ, PT. INDONUSA MORA PERKASA