Penyerbukan melalui perantaraan serangga merupakan jasa ekosistem yang berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian. Namun, penurunan populasi polinator akibat intensifikasi pertanian, perubahan penggunaan lahan, dan penggunaan pestisida menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan produksi tanaman perkebunan dan hortikultura. Terdapat masalah dalam kuantifikasi nilai ekonomi jasa ekosistem penyerbukan pada tanaman perkebunan dan hortikultura. Begitu pula masalah bagaimana menganalisis potensi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni lebah tanpa sengat (Tetragonula laeviceps) di Jawa Barat. Jawaban terhadap masalah tersebut dapat dijadikan dasar pengembangan strategi mengantisipasi fenomena gangguan terhadap jasa ekosistem penyerbukan. Maka dari itu, Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai ekonomi jasa ekosistem penyerbukan serangga berdasarkan pendekatan produksi melalui perhitungan Economic Value of Insect Pollination (EVIP) pada komoditas perkebunan dan hortikultura, menganalisis potensi kelayakan ekonomi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni lebah T. laeviceps dengan perbandingan parameter Revenue - Cost Ratio (R/C) tiap komoditas perkebunan dan hortikultura di Jawa Barat, serta merumuskan strategi pengelolaan menggunakan analisis SWOT dan model bisnis penyerbukan terkelola yang sesuai dengan kondisi regional menggunakan Business Model Canvas (BMC). Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai EVIP sebesar Rp 51,88 juta/hektar/tahun atau setara 14,35% dari total produksi perkebunan dan hortikultura di Jawa Barat. Hasil analisis potensi kelayakan ekonomi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni T. laeviceps menunjukkan peningkatan rata-rata nilai R/C sebesar 31,21%. Pada komoditas dengan Dependency Ratio (D) sedang hingga esensial (0,65–0,95), seperti melon (D = 0,95; ?R/C = 3,81); semangka (D = 0,95; ?R/C = 1,41); alpukat (D = 0,65; ?R/C = 1,35); labu siam (D = 0,65; ?R/C = 1,34); jambu biji (D = 0,65; ?R/C = 1,24); mangga (D = 0,65; ?R/C = 1,24); durian (D = 0,65; ?R/C = 1,15); buah naga (D = 0,65; ?R/C = 1,03); ketimun (D = 0,65; ?R/C = 0,88); dan tomat (D = 0,65; ?R/C = 0,92), mengalami perubahan status kelayakan ekonomi dari tidak efisien (R/C < 1) menjadi efisien (R/C > 1) setelah penerapan penyerbukan terkelola. Penerapan penyerbukan terkelola menunjukkan peningkatan nilai R/C pada komoditas lain seperti sawo (D = 0,65; ?R/C = 1,94); stroberi (D = 0,25; ?R/C = 0,34); dan paprika (D = 0,05; ?R/C = 0,11). Adapun pada komoditas dengan ketergantungan terhadap serangga polinator yang lebih rendah (D = 0,05-0,25) cenderung mengalami penurunan R/C seperti pada jeruk bali (D = 0,05; ?R/C = -1,79); kelapa (D = 0,25; ?R/C = -1,58); dan kelapa sawit (D = 0,05; ?R/C = -1,09). Analisis regresi menunjukkan bahwa peningkatan kelayakan ekonomi (?R/C) memiliki hubungan positif dengan tingkat ketergantungan tanaman terhadap polinator. Hasil analisis matriks IE menunjukkan bahwa kondisi eksternal dan internal penerapan penyerbukan terkelola berada pada Sel V, dengan skor IFE sebesar 2,52 dan skor EFE sebesar 2,43, sehingga arah pengembangan yang direkomendasikan adalah hold and maintain. Alternatif strategi dari analisis SWOT diimplementasikan ke dalam model BMC menempatkan petani hortikultura dan perkebunan skala kecil hingga menengah, khususnya yang menerapkan sistem pertanian organik dan greenhouse, sebagai segmen pelanggan utama. Proposisi nilai yang ditawarkan meliputi efisiensi penyerbukan, pengurangan kebutuhan penyerbukan manual, potensi peningkatan kualitas hasil panen, serta kesesuaian dengan prinsip pertanian ramah lingkungan. Sumber pendapatan tidak hanya berasal dari penjualan atau sewa koloni, tetapi juga dari jasa pelatihan, pendampingan, serta produk turunan lebah, dengan dukungan kemitraan antara kelompok tani, kelompok tani hutan, pemerintah, dan akademisi.
Perpustakaan Digital ITB