ABSTRAK Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Ni Luh Putu Mertyasih Wedani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Kawasan Blok M yang seharusnya mendukung penerapan konsep Transit-Oriented
Development (TOD) sebagaimana ditetapkan dalam RTRW Provinsi DKI Jakarta
masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya inklusivitas, terbatasnya
penyediaan perumahan terjangkau, serta keberadaan parkir on-street yang
berlebihan dan tidak tertata. Kondisi tersebut menunjukkan pengembangan
kawasan belum sepenuhnya berorientasi pada peralihan penggunaan kendaraan
pribadi menuju transportasi umum, sehingga masih memicu kemacetan dan
mengganggu aksesibilitas pejalan kaki (Manurung & Yusuf, 2025). Oleh karena
itu, keberadaan infrastruktur transit di Kawasan TOD Blok M belum mampu
mendukung kualitas berjalan kaki secara optimal. Pengalaman berjalan kaki
dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan yang mencakup aspek kenyamanan,
keamanan, dan kemudahan akses (He et al., 2024). Selain itu, lingkungan binaan
berperan melalui karakteristik fisik, seperti aksesibilitas, keramahan berjalan kaki
(walkability), dan keterhubungan antarpenggunaan lahan, serta melalui persepsi
subjektif pejalan kaki terhadap kualitas lingkungan berjalan kaki (He et al.,
2024).Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik lingkungan binaan
dalam pendekatan objektif dan subjektif (persepsi pejalan kaki) dalam pengukuran
walkability di Kawasan Blok M yang ditetapkan sebagai kawasan berbasis TOD.
Pengukuran karakteristik lingkungan binaan dilakukan menggunakan prinsip 5D
(Density, Diversity, Design, Distance to Accessibility, dan Distance to Transit)
serta Neighborhood Environment Walkability Scale (NEWS). Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis Sistem Informasi Geografis
(GIS) dan statistik deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan variabel-variabel NEWS dapat diterapkan di
Indonesia dengan nilai reliabilitas lebih dari 0,60 dan nilai validitas lebih dari
0,238 pada setiap variabel. Setiap variabel dalam konsep 5D juga menunjukkan
hasil yang sejalan dan saling mendukung dengan variabel NEWS. Kedua
pendekatan tersebut menghasilkan temuan yang saling melengkapi karena NEWS
mampu menangkap aspek-aspek yang tidak dapat diukur secara objektif, seperti
kualitas infrastruktur pejalan kaki. Variabel kepadatan (Density dan Residential
Density) menunjukkan adanya kepadatan hunian pada lokasi tertentu denganv
dominasi hunian horizontal. Variabel keberagaman (Diversity) menunjukkan
keberagaman aktivitas yang cukup tinggi, terutama pada kawasan yang didominasi
oleh fungsi permukiman, perkantoran, serta perdagangan dan jasa (mixed-use).
Variabel desain (Design) menunjukkan tingkat konektivitas yang tinggi, terutama
pada kawasan dengan intensitas aktivitas yang tinggi. Akses terhadap layanan
dasar (basic services) dan transportasi umum juga tergolong baik, dengan
jangkauan sekitar 100–500 meter atau waktu tempuh berjalan kaki selama 5–20
menit. Variabel kualitas infrastruktur pejalan kaki dan lalu lintas (Infrastructure
and Traffic) menunjukkan kondisi yang tergolong baik. Namun, masyarakat masih
cenderung menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan berjalan kaki. Kondisi
tersebut tercermin dari banyaknya parkir yang tidak tertata dan memanfaatkan
ruang pejalan kaki. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pejalan kaki berasal
dari berbagai kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendapatan, jumlah anggota
keluarga, serta tingkat kepemilikan SIM dan kendaraan pribadi. Berdasarkan
kecenderungan jarak dan waktu berjalan kaki rata-rata harian, terdapat indikasi
bahwa penyediaan layanan di Kawasan Blok M telah mampu menjangkau berbagai
tujuan dalam rentang standar TOD, yaitu sekitar 5–20 menit atau 500–800 meter
berjalan kaki. Hasil pengukuran walkability menunjukkan bahwa Kawasan TOD
Blok M memperoleh nilai walkability objektif sebesar 53,63 dan walkability
subjektif sebesar 59,59. Kedua nilai tersebut termasuk dalam kategori "Cukup
Baik" berdasarkan Pedoman Pengukuran Indeks Kelayakan Berjalan di Kawasan
Perkotaan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian
PUPR, Tahun 2023. Meskipun demikian, Kawasan TOD Blok M masih belum
sepenuhnya memenuhi karakteristik kawasan TOD yang kompak, inklusif, dan
terintegrasi secara optimal dengan sistem transit.
Perpustakaan Digital ITB