Sektor Forestry and Other Land Use (FOLU) memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim di Indonesia, khususnya melalui rehabilitasi ekosistem mangrove dalam kerangka kebijakan FOLU Net Sink 2030. Keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat lokal, terutama Kelompok Tani Hutan (KTH). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat partisipasi KTH serta mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi partisipasi tersebut dalam implementasi rehabilitasi mangrove di wilayah kerja BPDAS Brantas Sampean. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi lapangan, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan triangulasi metode meliputi Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS), Tangga Partisipasi Arnstein, serta pendekatan Rapid Appraisal for Mangrove Rehabilitation (RAP-MR) Adaptasi. Kerangka Theory of Change (ToC) digunakan untuk menyintesis hasil analisis, sedangkan SWOT dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) digunakan dalam perumusan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peran Pemangku Kepentingan (X4) merupakan variabel kunci yang menentukan tingkat partisipasi aktual KTH. Meskipun kapasitas pengetahuan dan motivasi membentuk niat berpartisipasi yang kuat, ditemukan intention-action gap akibat dominasi pendekatan top-down pada tahap perencanaan dan pelaksanaan. Analisis RAP-MR menunjukkan dimensi ekonomi merupakan aspek keberlanjutan terlemah, sedangkan mekanisme pengawasan kelembagaan menjadi leverage point tertinggi. Secara keseluruhan, program masih berada pada kategori Tokenisme, tetapi praktik pendampingan dialogis setara di Probolinggo mampu mencapai aras Penentraman (Placation) dan indeks keberlanjutan tertinggi. Strategi prioritas yang direkomendasikan ialah penguatan mekanisme pengawasan kelembagaan mandiri serta replikasi praktik pendampingan partisipatif lintas kabupaten untuk menjamin keberlanjutan program pasca-2030.
Perpustakaan Digital ITB