ABSTRAK Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Nadhilah Nur Adlina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Inklusi sosial merupakan pilar pembangunan berkelanjutan yang diamanatkan
dalam agenda SDGs dan RPJMN 2025-2029, namun penerapannya di sektor
budidaya tambak Kawasan Pesisir masih jauh dari merata — kelompok seperti
perempuan, pemuda, dan buruh tambak kerap terpinggirkan dari akses program,
pengambilan keputusan, dan distribusi manfaat ekonomi. Penelitian ini bertujuan
menganalisis tingkat inklusi sosial masyarakat dalam lingkup tambak di Desa Pegat
Batumbuk, Suaran, dan Tabalar Muara — tiga desa dengan konsentrasi lahan
tambak aktif terbesar di Kabupaten Berau (>11.000 ha). — beserta karakteristik
kelompok masyarakatnya. Menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis survei
dengan kuesioner Likert 4 poin, data dikumpulkan dari 158 responden yang terbagi
dalam kelompok petambak, perempuan, pemuda, dan kelompok rentan melalui
stratified random sampling, dianalisis menggunakan kerangka empat dimensi
GEDSI — akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat — yang dioperasionalisasikan
menjadi 12 indikator terukur ( r > 0,7; ? > 0,8). Hasil pengukuran menunjukkan
tingkat inklusi sosial Desa Suaran sebesar 67,04% (sedang), Desa Pegat Batumbuk
63,27% (sedang), dan Desa Tabalar Muara 52,91% (rendah), namun angka agregat
tersebut menyimpan ketimpangan yang jauh lebih dalam di tingkat kelompok —
kondisi paling kritis ditemukan pada kelompok perempuan di Desa Suaran
(36,54%;sangat rendah) dan kelompok rentan di Desa Tabalar Muara
(35,26%;sangat rendah). Dimensi partisipasi secara konsisten mencatat nilai
terendah di hampir seluruh kelompok dan desa, sementara keterlibatan dalam
organisasi kemasyarakatan terbukti berkorelasi positif dengan tingkat inklusi sosial.
Temuan ini menegaskan bahwa ketimpangan inklusi sosial dalam lingkup tambak
bersifat kelompok-spesifik dan tidak dapat dibaca semata dari nilai agregat desa.
Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan instrumen pengukuran inklusi
sosial berbasis GEDSI yang diadaptasi secara kontekstual untuk komunitas tambak
pesisir, sekaligus menjadi landasan bagi Pemerintah Kabupaten Berau dalam
merancang kebijakan sektor perikanan yang lebih inklusif dan responsif terhadap
gender.
Perpustakaan Digital ITB