Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 28.170 MW atau sekitar 40%
dari potensi panas bumi dunia. Sampai tahun 2009, baru 1.189 MW yang terpasang dari
265 Wilayah Kerja Pertambangan yang ada di seluruh Indonesia. Pemerintah
menargetkan pada tahun 2025, ada 9.466 MW listrik yang terpasang di seluruh
Indonesia.
Dalam tugas akhir ini, dibahas pemanfaatan Siklus Rankine Organik (SRO)
dalam Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di dua lokasi yakni Sumatera Selatan dan
Sulawesi Utara. Simulasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dilakukan dengan
menggunakan perangkat lunak HYSYS7.3. Ada tiga sistem yang penulis analisis yaitu
Binary Power Plant, Condensing Steam Turbine and Brine Binary Power Plant Bottom
Cycle, dan Backpressure Steam and Binary Power Plant in Combined Cycle. Fluida
kerja yang digunakan pada siklus ini adalah R-134a (1,1,1,2-tetrafluoroethane). Dari
hasil studi diperoleh bahwa di lokasi Sumatera Selatan, untuk sistem pertama dihasilkan
daya sebesar 7.656,4 kW, efisiensi eksergetik 30,8% dan efisiensi termal 11,7%. Sistem
kedua menghasilkan daya sebesar 19.636,73 kW dengan penambahan daya dari SRO
sebesar 5.149 kW, efisiensi eksergetik 78,9% dan efisiensi termal 30,08%. Sistem ketiga
18.977,3 kW dengan penambahan daya dari SRO sebesar 11.030 kW, efisiensi
eksergetik 76,3% dan efisiensi termal 29,07%.
Sedangkan di lokasi Sulawesi utara dihasilkan daya sebesar 7.651,8 kW,
efisiensi eksergetik 16,2%, efisiensi termal 6,5%. Sistem kedua 28.363,73 kW dengan
penambahan daya dari SRO sebesar 11.310 kW, efisiensi eksergetik 60,36%, efisiensi
termal 24%. Dan sistem ketiga 22.076,6 kW dengan penambahan daya dari SRO
sebesar 11.850 kW, efisiensi eksergetik 46,98%, efisiensi termal 18,73%. Dari ketiga
sistem tersebut dapat diketahui bahwa daya terbesar yang dapat dihasilkan adalah sistem
Condensing Steam Turbine and Brine Binary Power Plant Bottom Cycle.
Perpustakaan Digital ITB