digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Darma Wangsa
PUBLIC Open In Flipbook Resti Andriani

BAB 1 Darma Wangsa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Darma Wangsa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Darma Wangsa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Darma Wangsa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Darma Wangsa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Darma Wangsa
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Keruntuhan lereng batuan pada tambang terbuka dipengaruhi oleh interaksi kualitas massa batuan, orientasi diskontinuitas, geometri lereng, dan kondisi hidrogeologi, sehingga evaluasi menggunakan satu metode saja sering kali belum mampu merepresentasikan mekanisme keruntuhan secara komprehensif. Penelitian ini menganalisis secara terintegrasi dua kejadian longsoran di Zona C, Pit A Sektor Tengah PT XYZ, Sulawesi Utara (12 Juli dan 13 Agustus 2024), melalui pemetaan scanline, klasifikasi Rock Mass Rating (RMR), analisis kinematik, pemantauan Slope Stability Radar (SSR), serta validasi numerik menggunakan metode elemen hingga pada perangkat lunak RS2. Analisis kinematik dilakukan menggunakan proyeksi stereografis, kemudian divalidasi melalui proyeksi ortografik multi-pandangan (multi-view orthographic projection) dan tampilan perspektif tiga dimensi (3D). Hasil pemetaan pada 72 segmen di tujuh elevasi menunjukkan bahwa RL 735 dan RL 720, yang merupakan zona longsoran, didominasi massa batuan Kelas III–IV dengan potensi keruntuhan utama berupa wedge sliding yang disertai toppling. Data SSR menunjukkan perkembangan deformasi dari onset of failure hingga deformasi progresif selama 11 dan 47 jam dengan deformasi maksimum sekitar 1,4 m sebelum longsor. Back-analysis menggunakan RS2 difokuskan pada pencocokan pola dan besaran deformasi lereng terhadap data SSR. Hasil menunjukkan deformasi simulasi sebesar 1,3 m pada kondisi pore pressure ratio (Ru) = 0,5, yang merepresentasikan peningkatan tekanan air pori akibat infiltrasi hujan sehingga menurunkan tegangan efektif dan kekuatan geser massa batuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas massa batuan dan orientasi diskontinuitas merupakan faktor predisposisi, sedangkan peningkatan tekanan air pori menjadi faktor pemicu utama longsoran. Berdasarkan hasil tersebut, direkomendasikan pengendalian tekanan air pori serta penerapan ambang deformasi SSR sebagai dasar sistem peringatan dini untuk meningkatkan keselamatan operasi penambangan.