digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Rafli Yudha Asdana
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Selat Lombok memiliki dinamika oseanografi yang kompleks, dengan pencampuran vertikal yang sangat intensif akibat interaksi antara Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), pasang surut, dan topografi selat. Penelitian ini mengkaji variasi struktur vertikal klorofil-a dan karakteristik Deep Chlorophyll Maximum (DCM) di perairan Selatan Selat Lombok menggunakan 94 profil CTD beresolusi temporal 3 jam yang direkam pada 13–25 Maret 2021. Identifikasi DCM dilakukan berdasarkan kriteria Baldry dkk. (2024) yang disesuaikan dengan status kesuburan perairan. Dari 94 profil CTD, sebanyak 73 profil (78%) berhasil mengidentifikasi DCM yang valid. DCM ditemukan secara konsisten pada rentang kedalaman 19 66 m (rata-rata 37,5 m) dengan konsentrasi puncak 0,506–1,013 mg/m³. Analisis posisi vertikal DCM terhadap struktur kolom air menunjukkan distribusi vertikal yang sangat spesifik dan berhimpit: 10% profil berada di dalam Lapisan Pencampuran (Mixed Layer Depth/MLD), mayoritas sebesar 85% terperangkap di zona transisi (antara batas bawah MLD dan batas atas termoklin), dan 5% DCM berada di dalam lapisan termoklin. DCM selalu berada di atas pusat piknoklin dengan jarak rata-rata 62,0 m, dan korelasi Pearson antara keduanya sangat lemah (r = ?0,14). Hal ini menegaskan bahwa variabilitas vertikal DCM dominan diatur oleh kondisi fisis-optik: MLD bertindak sebagai penghalang pergerakan ke lapisan permukaan akibat turbulensi lapisan atas, sementara zona eufotik (1% PAR pada kedalaman 38–43 m) menjadi batas bawah pergerakan vertikal DCM. Analisis spektral Lomb-Scargle menunjukkan ketiadaan sinyal periodik yang signifikan pada deret waktu kedalaman DCM (daya puncak tertinggi 0,15, berada di bawah ambang batas signifikansi FAP 5% sebesar 0,24). Ketiadaan dominasi ini mengindikasikan bahwa pergerakan vertikal DCM tidak diatur oleh periodisitas pasang surut secara tunggal, melainkan akibat dari kompleksitas interaksi hidrodinamika lokal yang terus-menerus menekan batas ruang spasialnya. Perbandingan dengan data model CMEMS sepanjang tahun 2021 menghasilkan Z score sebesar 0,458, mengonfirmasi bahwa kondisi struktural DCM ini adalah representasi tipikal dari dinamika transisi monsun di perairan tersebut.