WPP-NRI 713 merupakan wilayah yang rentan terhadap pemanasan laut dan stres
termal yang berpotensi memengaruhi ekosistem terumbu karang. Penelitian ini
bertujuan menganalisis pola spasial dan temporal Sea Surface Temperature (SST),
HotSpot, dan Degree Heating Week (DHW), mengidentifikasi tren pemanasan laut
dan periode DHW ekstrem selama 1995–2024, serta menganalisis hubungan DHW
dengan Oceanic Niño Index (ONI) dan Dipole Mode Index (DMI). Penelitian
menggunakan data SST harian NOAA Coral Reef Watch beresolusi 5 km. HotSpot
dihitung dari selisih SST terhadap Maximum Monthly Mean (MMM), sedangkan
DHW dihitung dari akumulasi HotSpot ?1°C selama 84 hari (12 minggu). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan SST, HotSpot, dan DHW tinggi
terkonsentrasi di Selat Makassar bagian selatan, Teluk Bone, dan Laut Flores
bagian utara yang sebagian berdekatan dengan sebaran terumbu karang. Hasil uji
Mann-Kendall dan Sen's slope menunjukkan tren peningkatan yang signifikan pada
SST (0,026349702 °C/tahun), HotSpot (0,002891244 °C/tahun), dan DHW
(0,00228571 °C-weeks/tahun). Periode DHW ekstrem terutama terjadi pada tahun
2010 (intensitas tertinggi, 5,52 °C-weeks), 2016 (durasi 272 hari dengan 3
kejadian), dan 2024 (3 kejadian dengan durasi total 261 hari). Analisis korelasi
Pearson menunjukkan bahwa hubungan DHW dengan ENSO lebih kuat
dibandingkan IOD, dengan korelasi maksimum terhadap ONI sebesar r =
0,41359874 pada lag enam bulan dan terhadap DMI sebesar r = 0,27506879 pada
lag lima bulan. Sebagian besar kejadian DHW ekstrem terjadi pada kondisi ENSO
dan IOD netral, menunjukkan bahwa pembentukan DHW dipengaruhi oleh
akumulasi panas yang dikontrol oleh variabilitas iklim dan dinamika oseanografi
regional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa WPP-NRI 713 mengalami
peningkatan stres termal selama tiga dekade terakhir dan dapat menjadi dasar
pengembangan early warning system serta pengelolaan terumbu karang dan
perikanan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Perpustakaan Digital ITB