digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Dewi Ayu Sekartaji
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Urbanisasi di DKI Jakarta meningkatkan kepadatan penduduk dan kebutuhan mobilitas untuk menjangkau fasilitas dasar, sementara kemacetan menghambat aksesibilitas. Pemerintah telah mengembangkan sistem transportasi massal terintegrasi melalui Transjakarta untuk mengatasi tantangan ini, namun sejauh mana integrasi tersebut memperluas jangkauan aksesibilitas terhadap fasilitas esensial, sebagaimana digagas dalam konsep 15-Minute City oleh Moreno (2016), masih perlu dikaji. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keterjangkauan enam fasilitas esensial (pekerjaan, ekonomi, kesehatan, pendidikan, kultural, rekreasi) dengan mengintegrasikan akses berjalan kaki dan transportasi publik dalam skala lingkungan (neighborhood) berdasarkan konsep 15-Minute City. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menghitung jangkauan area layanan dengan memanfaatkan OpenTripPlanner (OTP) untuk membuat isochrone berbasis jaringan jalan dan jadwal transit. Pola persebaran area dengan aksesibilitas tinggi (hotspot) dan rendah (coldspot) dihitung dengan menggunakan analisis Global Moran’s I. Hasilnya menunjukkan Transjakarta secara signifikan memperluas jangkauan area layanan 15 menit, dengan peningkatan status aksesibilitas dari Coldspot menjadi Hotspot pada skenario multimoda, sejalan dengan Canestrini & Giannopoulos (2025) dan Fonseca (2025). Namun, manfaatnya masih terpusat di Jakarta Pusat, sementara Jakarta Timur dan Utara masih rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi transportasi publik terbukti mampu memperluas jangkauan aksesibilitas penduduk terhadap fasilitas esensial, namun pemanfaatannya masih timpang dan terbatas pada wilayah-wilayah tertentu. Penelitian ini diharapkan memberi masukan bagi pemangku kepentingan untuk meningkatkan infrastruktur pejalan kaki, memperluas rute dan titik pemberhentian Transjakarta ke wilayah pinggiran, meningkatkan konektivitas, serta menerapkan kebijakan guna lahan campuran (mixed-use) secara lebih menyeluruh. Dengan demikian, penelitian ini mendukung visi Jakarta sebagai kota global berbasis transit yang inklusif dan resilien, serta mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.