digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ahmad Faishal Nurdzaky
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Kegiatan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang memberikan kontribusi limbah panas (thermal plume) yang signifikan terhadap ekosistem perairan pesisir, sehingga diperlukan pemantauan spasial-temporal yang akurat untuk memitigasi dampak termal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran limbah panas PLTU Muara Karang secara spasial dan temporal dengan memanfaatkan data satelit yang diolah melalui pendekatan algoritma empiris oleh Bambang serta algoritma Radiative Transfer Model (RTM). Pengolahan data dilakukan melintasi empat kondisi musim representatif, yaitu Musim Barat, Peralihan I, Musim Timur, dan Peralihan II, untuk menguji sensitivitas model terhadap variabilitas atmosferik. Hasil validasi statistik menunjukkan bahwa pemilihan algoritma sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosferik musiman. Algoritma empiris oleh Bambang menunjukkan presisi tertinggi pada Musim Timur dengan RMSE sebesar 0,84, sementara algoritma RTM memberikan hasil paling optimal pada Musim Barat dengan RMSE sebesar 0,95. Seluruh hasil ekstraksi suhu dinyatakan layak dengan nilai Relative Error (RE) < 1 dan Mean Relative Error (MRE) di bawah 15%. Analisis luasan kritis berdasarkan ambang batas baku mutu lingkungan (?T > 2?C) membuktikan secara empiris bahwa jangkauan dispersi termal sangat dikendalikan oleh hidrodinamika lokal. Fenomena slack water di Musim Peralihan II, massa air panas yang telah kehilangan momentum di zona jauh (far-field) gagal terdispersi secara alami. Kondisi ini mengakibatkan akumulasi panas yang masif dan stagnan hingga menjorok ke area semi-tertutup Pantai Mutiara, yang secara instan menciptakan luasan paparan ekstrem dan memicu zona bahaya ekologis.Di sisi lain, analisis spasial pemetaan ini juga menunjukkan adanya tantangan teknis berupa bias overestimate pada area transisi darat-laut sejauh 80 hingga 120 meter akibat fenomena mixed pixel. Tingkat keparahan anomali termal semu ini ditemukan berkorelasi kuat dengan jenis tutupan lahan, di mana material beton pelabuhan memicu lonjakan suhu yang signifikan. Sebagai simpulan, penelitian ini menegaskan bahwa untuk menghasilkan pemetaan sebaran limbah panas yang akurat pada wilayah pesisir dengan topografi kompleks, penggunaan teknik ekstraksi suhu berbasis perairan darat (badan air murni) adalah langkah krusial untuk meminimalisir interferensi daratan.