Kegiatan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang
memberikan kontribusi limbah panas (thermal plume) yang signifikan terhadap
ekosistem perairan pesisir, sehingga diperlukan pemantauan spasial-temporal yang
akurat untuk memitigasi dampak termal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk
memetakan sebaran limbah panas PLTU Muara Karang secara spasial dan temporal
dengan memanfaatkan data satelit yang diolah melalui pendekatan algoritma
empiris oleh Bambang serta algoritma Radiative Transfer Model (RTM).
Pengolahan data dilakukan melintasi empat kondisi musim representatif, yaitu
Musim Barat, Peralihan I, Musim Timur, dan Peralihan II, untuk menguji
sensitivitas model terhadap variabilitas atmosferik. Hasil validasi statistik
menunjukkan bahwa pemilihan algoritma sangat dipengaruhi oleh kondisi
atmosferik musiman. Algoritma empiris oleh Bambang menunjukkan presisi
tertinggi pada Musim Timur dengan RMSE sebesar 0,84, sementara algoritma
RTM memberikan hasil paling optimal pada Musim Barat dengan RMSE sebesar
0,95. Seluruh hasil ekstraksi suhu dinyatakan layak dengan nilai Relative Error
(RE) < 1 dan Mean Relative Error (MRE) di bawah 15%. Analisis luasan kritis
berdasarkan ambang batas baku mutu lingkungan (?T > 2?C) membuktikan secara
empiris bahwa jangkauan dispersi termal sangat dikendalikan oleh hidrodinamika
lokal. Fenomena slack water di Musim Peralihan II, massa air panas yang telah
kehilangan momentum di zona jauh (far-field) gagal terdispersi secara alami.
Kondisi ini mengakibatkan akumulasi panas yang masif dan stagnan hingga
menjorok ke area semi-tertutup Pantai Mutiara, yang secara instan menciptakan
luasan paparan ekstrem dan memicu zona bahaya ekologis.Di sisi lain, analisis
spasial pemetaan ini juga menunjukkan adanya tantangan teknis berupa bias
overestimate pada area transisi darat-laut sejauh 80 hingga 120 meter akibat
fenomena mixed pixel. Tingkat keparahan anomali termal semu ini ditemukan
berkorelasi kuat dengan jenis tutupan lahan, di mana material beton pelabuhan
memicu lonjakan suhu yang signifikan. Sebagai simpulan, penelitian ini
menegaskan bahwa untuk menghasilkan pemetaan sebaran limbah panas yang
akurat pada wilayah pesisir dengan topografi kompleks, penggunaan teknik
ekstraksi suhu berbasis perairan darat (badan air murni) adalah langkah krusial
untuk meminimalisir interferensi daratan.
Perpustakaan Digital ITB