digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pipa bawah laut merupakan infrastruktur yang sangat krusial dalam sistem transportasi minyak, khususnya pada kegiatan produksi minyak dan gas di wilayah lepas pantai, karena berfungsi sebagai sarana utama untuk menyalurkan fluida hidrokarbon dari fasilitas produksi menuju fasilitas pemrosesan atau fasilitas darat. Keandalan sistem pipa bawah laut ini menjadi aspek yang sangat penting mengingat potensi kegagalan pipa dapat menimbulkan dampak signifikan baik dari sisi keselamatan, lingkungan, maupun kerugian ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan analisis risiko yang mampu merepresentasikan kondisi sistem secara lebih realistis, termasuk dalam menghadapi keterbatasan data kegagalan yang sering terjadi pada sistem perpipaan bawah laut. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Fuzzy Fault Tree Analysis (FFTA), yang memungkinkan integrasi antara data kuantitatif dan penilaian pakar dalam bentuk linguistik untuk mengatasi ketidakpastian pada metode fault tree analysis konvensional. Dalam penelitian ini, metode FFTA diterapkan pada enam pipa minyak bawah laut yang beroperasi di wilayah Northwest Java dengan memanfaatkan data inspeksi dan operasional yang tersedia, serta mempertimbangkan interval inspeksi selama empat tahun dalam perhitungan laju kegagalan. Hasil analisis menunjukkan bahwa estimasi probabilitas kegagalan top event berupa kegagalan pipa berada pada rentang sekitar 0,01 hingga 0,06, yang mencerminkan perbedaan kondisi operasional, riwayat kebocoran, serta tingkat degradasi masing-masing pipa. Selain itu, hasil analisis juga mengindikasikan bahwa faktor riwayat kebocoran merupakan kontributor paling dominan terhadap potensi kegagalan pipa, diikuti oleh lamanya umur operasional pipa, dan kerusakan dinding pipa, sedangkan faktor tindakan pengendalian integritas preventif memiliki pengaruh yang relatif lebih kecil. Secara keseluruhan, penerapan metode FFTA menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan estimasi probabilitas kegagalan yang lebih berbasis kondisi aktual (condition-based), sehingga dapat mendukung proses prioritisasi risiko dan pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam pengelolaan integritas pipa minyak bawah laut.