PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menetapkan target produksi dan penjualan jangka panjang yang ambisius di tengah dinamika pasar energi yang terus berubah. Ketika harga batubara cenderung stabil atau menurun sementara harga minyak meningkat, PTBA dituntut untuk menjaga efisiensi biaya guna mempertahankan daya saing dan profitabilitas. Dalam konteks ini, peningkatan efisiensi produksi menjadi krusial, salah satunya melalui pembangunan sistem konveyor di dalam tambang untuk menggantikan pengangkutan batubara berbasis truk. Mengingat besarnya investasi yang terlibat, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada penerapan manajemen risiko proyek yang konsisten dan efektif, yang saat ini belum sepenuhnya terintegrasi secara komprehensif.
Penelitian ini menggunakan analisis kesenjangan untuk mengevaluasi implementasi manajemen risiko proyek PTBA dengan membandingkan praktik yang berjalan terhadap standar ISO 31000:2018 dan prosedur internal perusahaan. Hasil analisis menunjukkan adanya kesenjangan utama pada prioritisasi risiko, analisis risiko kuantitatif, dan pemantauan risiko. Meskipun risiko telah diidentifikasi, analisis dampak finansial dan pemanfaatan Indikator Risiko Utama (KRI) sebagai peringatan dini belum diterapkan secara optimal. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, penelitian ini melakukan identifikasi ulang risiko dengan menganalisis konteks internal dan eksternal proyek menggunakan kerangka 5M dan PESTEL. Risiko yang teridentifikasi kemudian dianalisis dengan mengkuantifikasi dampaknya dan mensimulasikannya dalam model keuangan untuk menilai NPV dan IRR proyek. Berdasarkan hasil tersebut, risiko utama diprioritaskan, strategi mitigasi disusun, serta KRI dirancang untuk mendukung pemantauan risiko secara berkala dan pengambilan keputusan manajemen
Perpustakaan Digital ITB