digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pengembangan Lapangan Gas Beta di Blok Celebes menghadapi keputusan komersialisasi kritis antara dua strategi di bawah kerangka Gross Split PSC Indonesia. Penelitian ini membandingkan dua skenario: integrasi Beta ke Lapangan Alfa yang terhubung ke infrastruktur eksisting untuk penjualan langsung ke PLN mulai tahun 2026, versus pengembangan Lapangan Beta saja yang menunggu penyelesaian infrastruktur mini-LNG di tahun 2028. Studi ini bertujuan untuk menentukan strategi komersialisasi optimal dengan mengevaluasi kinerja finansial, mengidentifikasi variabel risiko kritis, dan memberikan rekomendasi strategis. Studi ini menggunakan pemodelan finansial rinci dengan analisis deterministik, analisis sensitivitas, dan simulasi Monte Carlo melalui 1.000 skenario di bawah kerangka Gross Split PSC dengan tingkat diskonto 12,68%. Temuan menunjukkan bahwa menghubungkan Beta ke Lapangan Alfa jelas lebih unggul, menghasilkan NPV USD 77,75 juta dibandingkan USD 64,69 juta untuk Beta saja (20% lebih baik), dengan tingkat pengembalian lebih tinggi yaitu IRR 49,70% versus 43,18%, dan pemulihan modal lebih cepat 3,38 tahun versus 3,93 tahun. Hasil yang lebih baik ini berasal dari produksi gas yang lebih banyak (119,78 BSCF versus 102,01 BSCF) selama umur lapangan 13 tahun yang lebih panjang dan pendapatan yang lebih tinggi (USD 628,71 juta versus USD 520,27 juta) dengan memulai produksi lebih awal. Analisis risiko mengungkapkan bahwa volume produksi memiliki dampak terbesar terhadap kesuksesan proyek, dimana perubahan 20% dapat mengayunkan NPV sebesar USD 21 juta, diikuti oleh harga gas yang mempengaruhi NPV sebesar USD 17-19 juta. Simulasi menguji 1.000 skenario berbeda dan menemukan kedua opsi tetap menguntungkan, dengan Beta ke Alfa menunjukkan hasil yang lebih konsisten dan dapat diprediksi. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi Beta ke Lapangan Alfa adalah strategi optimal dengan keuntungan finansial yang superior dan risiko lebih rendah. Penelitian merekomendasikan eksekusi proyek segera dengan target produksi awal tahun 2026, memantau progres mini-LNG, memperbarui evaluasi ekonomi secara berkala, menegosiasikan perpanjangan kontrak PLN setelah 2029, dan mengimplementasikan program optimasi produksi serta kontrol biaya.