Siklus hidrologi memiliki peran krusial dalam keberlangsungan hidup dan sistem
iklim di Bumi. Di Indonesia, dengan karakteristik iklim tropis maritim yang
kompleks, pemantauan dinamika hidrologi menjadi tantangan tersendiri, terutama
karena pendekatan pemantauan konvensional masih terbatas dan berfokus pada
dinamika di atas permukaan Bumi. Upaya mengatasi keterbatasan tersebut,
pemanfaatan data satelit gravimetri GRACE (Gravity Recovery and Climate
Experiment) dan GRACE-FO (Follow On) menawarkan solusi potensial karena
kemampuannya dalam mendeteksi perubahan Total Water Storage (TWS) yang
merepresentasikan total massa air di darat, mencakup air permukaan, kelembapan
tanah, dan air tanah. Namun, kelangsungan pemanfaatan data GRACE di wilayah
Indonesia terhambat oleh adanya kekosongan data akibat masa transisi misi selama
11 bulan, serta gangguan noise sinyal nonhidrologi berskala masif akibat gempa
bumi besar seperti gempa Sumatra-Andaman. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk mengoreksi gangguan sinyal gempa pada data pengamatan
GRACE, melakukan gap-filling untuk mengembalikan kontinuitas deret waktu
observasi, serta menganalisis pola dinamika hidrologi tahunan dan semitahunan di
Indonesia beserta keterkaitannya dengan fenomena iklim.
Penelitian ini menggunakan data observasi anomali TWS dari CSR
GRACE/GRACE-FO RL06.3 Mascon dengan rentang rentang waktu dari April
2002 hingga Juni 2025. Proses awal pengolahan difokuskan pada koreksi gempa
bumi di perairan Andaman-Sumatra dengan menggunakan metode Principal
Component Analysis (PCA) yang identik dengan Empirical Orthogonal Function
(EOF) untuk mengekstraksi dan mengeliminasi sinyal co-seismic serta postseismic.
Setelah dikoreksi, prosedur algoritma climSSA (climate adjustment
scheme using Singular Spectrum Analysis) yang dipadukan dengan parameter iklim
turunan seperti curah hujan dan potensi evaporasi diaplikasikan untuk
merekonstruksi bulan-bulan yang tidak memiliki data observasi. Deret waktu
anomali TWS kontinu kemudian didekomposisi menggunakan regresi harmonik
untuk mengekstraksi komponen tren linier jangka panjang, pola tahunan, dan pola
semitahunan. Hasil observasi divalidasi keandalannya menggunakan perhitungan
water budget closure dengan data meteorologis, dan selanjutnya dikorelasikan
menggunakan pendekatan lag correlation terhadap empat indeks iklim utama, yaitu
El Niño Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), Australian
Monsoon Index (AUSMI), dan Indian Monsoon Index (IMI). Kajian ini juga
dilengkapi dengan mendeteksi anomali hidrologis berbasis GRACE-DSI (Drought
Severity Index) dan perhitungan estimasi anomali Groundwater Storage (GWS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan koreksi gempa bumi berhasil
mereduksi anomali tren nonhidrologi secara drastis, utamanya di perairan laut
Andaman-Sumatra, sehingga data TWS menjadi lebih stabil dan homogen
merepresentasikan variasi massa murni hidrologi. Rekonstruksi data menggunakan
metode climSSA terbukti sangat efektif, ditunjukkan oleh pencapaian nilai cross
validation dengan simulasi Monte Carlo sebesar 0,93 dan tingkat kesalahan
(RMSE) sangat kecil, yaitu 0,68 cm. Melalui dekomposisi harmonik, teridentifikasi
bahwa dinamika hidrologi di sebagian besar wilayah Indonesia didominasi oleh
pola tahunan yang merespons sistem monsun, sedangkan pola semitahunan hanya
mendominasi wilayah lintang ekuatorial seperti Sumatra bagian Barat dan Utara,
serta Papua bagian Utara. Validasi menggunakan persamaan water budget closure
menegaskan validitas GRACE dengan nilai korelasi moderat menuju kuat dan nilai
RMSE yang rendah pada kisaran 7,578 cm.
Dalam kaitannya dengan variabilitas iklim, ENSO terbukti menjadi pengontrol
iklim global paling dominan yang memengaruhi dinamika TWS di area Indonesia
bagian Tengah hingga Timur, sementara intervensi IOD lebih dominan menyetir
variasi TWS di wilayah Indonesia bagian Tengah ke Barat. Lebih lanjut, indeks
kekeringan GRACE-DSI sukses memetakan rentetan defisit hidrologis ekstrem
seperti El Niño tahun 2015-2016 dan 2019, yang memperlihatkan adanya
keterlambatan respons air di daratan (lag) berkisar 5 hingga 12 bulan sesudah
terjadinya kekeringan curah hujan (meteorologis). Analisis komponen air tanah
(GWS) mengungkap adanya laju degradasi cadangan air tanah yang nyata di
ekosistem gambut Sumatra dan Kalimantan yang mengalami tren penyusutan
sekitar -0,08 cm/tahun, berbanding terbalik dengan wilayah rawa dataran rendah
alami seperti Merauke yang masih mengalami tren akumulasi air tanah sebesar 0,65
cm/tahun. Namun, terdapat pola unik di daerah Pantura yang dikenal masif proses
ekstraksi air tanahnya terdeteksi memiliki tren naik 0,31 cm/tahun.
Secara keseluruhan, integrasi koreksi spasial gempa bumi dan rekonstruksi data
climSSA memegang peran penting dalam memaksimalkan potensi data satelit
gravimetri GRACE/GRACE-FO. Identifikasi komprehensif atas dinamika
hidrologi regional dan cadangan air tanah ini sangat krusial agar dapat
diimplementasikan menjadi acuan dan landasan data ilmiah bagi pemangku
kebijakan dalam rangka mitigasi bencana hidrometeorologi di masa yang akan
datang.
Perpustakaan Digital ITB