Urbanisasi dan perubahan iklim meningkatkan ketidaknyamanan lingkungan
perkotaan di kota-kota negara berkembang seperti Indonesia, termasuk Kota
Bandung. Kajian kenyamanan kota di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan
dimensi kenyamanan termal dengan infrastruktur data yang terbatas. Penelitian ini
mengembangkan Indeks Kenyamanan Lingkungan Perkotaan (Urban
Environmental Comfort Indeks/UECI) guna mengidentifikasi pola spasial
kenyamanan multidimensi dan menganalisis faktor pendorongnya yang terkait
morfologi kota dengan pendekatan Explainable Artificial Intelligence (XAI)
berbasis open-source data. UECI disusun sebagai indeks komposit nonkompensatori menggunakan metode Mazziotta–Pareto Index yang
mengintegrasikan dimensi termal, kualitas udara, visual, dan persepsi kenyamanan.
Untuk memodelkan faktor pendorong, penelitian ini membandingkan model
Random Forest dengan model GraphSAGE yang merepresentasikan hubungan
spasial dan bentuk kota dalam struktur graf. Hasil pemetaan menunjukkan tipologi
kenyamanan yang jelas, di mana kawasan relatif nyaman terkonsentrasi di bagian
utara dan timur yang lebih hijau dan berkepadatan bangunan lebih rendah,
sedangkan kawasan tidak nyaman dan kritis didominasi oleh koridor permukima
dan komersial padat di bagian selatan dan barat. Model GraphSAGE mencapai
akurasi sekitar 62% dan melampaui Random Forest dan menegaskan pentingnya
konteks spasial dalam memprediksi kenyamanan. Analisis XAI dengan SHAP
mengungkapkan bahwa kepadatan dan ketinggian bangunan, jarak ke jalan arteri
dan kolektor, kedekatan terhadap badan air, serta intensitas aktivitas komersial
berinteraksi secara non-linear, sehingga menuntut strategi penataan ruang adaptif
yang sensitif terhadap tipologi kawasan untuk meningkatkan kenyamanan
lingkungan perkotaan.
Perpustakaan Digital ITB