Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK) merupakan salah satu kawasan konservasi di Jawa Barat yang menghadapi tekanan perambahan hutan akibat pembukaan lahan ilegal untuk pertanian komersial musiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan pada tahun 2017, 2021, dan 2025 akibat perambahan hutan, serta menganalisis faktor fisik yang menjadi pendorong perambahan hutan di wilayah TBGMK. Klasifikasi tutupan lahan dilakukan menggunakan algoritma Random Forest terhadap citra PlanetScope, menghasilkan empat kelas tutupan lahan (Hutan, Semak Belukar, Pertanian Musiman, dan Area Terbuka) dengan akurasi 0,87–0,89. Analisis faktor fisik pendorong perambahan dilakukan melalui regresi logistik spasial terhadap lima variabel proximity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika tutupan lahan di TBGMK pada periode 2017–2025 mengikuti pola dua fase yang berlawanan arah: pada periode 2017–2021 luas hutan bertambah 123,6 ha, sementara pada periode 2021–2025 luas hutan berkurang 52,62 ha seiring bertambahnya luas pertanian musiman sebesar 14,72 ha. Model regresi logistik terbaik (Model 5) yang hanya menggunakan variabel jarak ke jalan dan elevasi mampu mencapai AUC sebesar 0,9037, menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut merupakan pendorong utama perambahan hutan di TBGMK, dengan risiko tertinggi berada pada area yang dekat dengan jalan dan berelevasi rendah.
Perpustakaan Digital ITB