Perum Perhutani memiliki peran penting dalam pengelolaan hutan negara di Jawa
Barat. RPKH (Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan) menjadi dasar dalam
mengarahkan pengelolaan hutan guna menjaga keseimbangan fungsi ekologi,
sosial, dan ekonomi. Meskipun rehabilitasi telah menjadi bagian dari pengelolaan
kawasan oleh Perum Perhutani, kondisi tutupan vegetasi pada sebagian kawasan
masih menunjukkan adanya area dengan tutupan terbuka yang bertahan dalam
beberapa periode pengamatan berdasarkan analisis citra Landsat. Kondisi tersebut
menunjukkan adanya kesenjangan antara pelaksanaan rehabilitasi dengan kondisi
aktual di lapangan. Penelitian ini dilaksanakan di petak 39, BKPH Manglayang
Barat, KPH Bandung Utara mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan rehabilitasi hutan melalui metode triangulasi data dan menganalisis
strategi rehabilitasi hutan pendekatan Multi Usaha Kehutanan (MUK) melalui
metode analisis SWOT-AHP (strengths, weaknesses, opportunities, and threats
with Analytical Hierarchy Process). Hasil analisis menunjukan bahwa
keberhasilan rehabilitasi hutan dipengaruhi oleh keterpaduan faktor biofisik,
sosial-ekonomi, dan kelembagaan yang saling berkaitan. Namun, adanya sebagian
petak terdefinisikan Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) yang
masih menghadapi kekosongan kelembagaan pengelolaan. Hal tersebut
menunjukan faktor kelembagaan merupakan faktor yang perlu mendapat perhatian
lebih. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi yang paling efektif adalah
melalui strategi diversifikasi dengan pendekatan MUK melalui pemilihan
beberapa rekomendasi vegetasi. Implementasi strategi tersebut perlu didukung
dengan kemitraan yang memberikan modal fisik dan modal pengetahuan.
Perpustakaan Digital ITB