digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Nafia Haya Ulfa
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

INTERTROPICAL CONVECTIVE CELL (ITCC) merupakan kerangka yang menggambarkan propagasi aktivitas konveksi di Kawasan Asia-Australia dalam delapan fase. Peningkatan Moist Static Energy (MSE) diketahui dapat terjadi lebih dahulu sebelum konveksi berkembang, sehingga MSE berpotensi menjadi indikator awal propagasi konveksi. Penelitian ini menganalisis perubahan Moist Static Energy (MSE) selama fase 4-7 ITCC (periode Juli-Februari) menggunakan data radiosonde di empat stasiun, yaitu Medan, Pangkal Pinang, Jakarta, dan Surabaya, beserta hubungannya dengan curah hujan. Data yang digunakan meliputi data radiosonde dari Universitas of Wyoming dan curah hujan dari data PERSIANN pada periode 2019-2023 dengan resolusi pentad. Analisis dilakukan melalui penyusunan komposit tiap fase, profil vertikal perubahan MSE,lag correlation antarstasiun, serta analisis korelasi spasial antara MSE Pangkal Pinang dan curah hujan di Pulau Jawa. Hasil menunjukkan MSE meningkat pada lapisan lembab bawah hingga menengah (700-900 hPa) dan penambahannya makin besar ke arah selatan mengikuti jalur transport kelembaban monsun Asia-Australia, dengan penambahan paling kecil di Medan. Perubahan MSE merambat dari utara ke selatan, yaitu Pangkal Pinang mendahului Jakarta sekitar 3 pentad (15 hari), sedangkan Jakarta dan Surabaya berubah hampir bersamaan. Korelasi MSE Pangkal Pinang dengan curah hujan di Pulau Jawa tergolong lemah, sehingga curah hujan di Jawa lebih dipengaruhi faktor lain di luar perubahan MSE dari wilayah utara. Secara keseluruhan, hasil ini mendukung gagasan bahwa peningkatan MSE dapat menjadi indikator awal propagasi konveksi ITCC.