INTERTROPICAL CONVECTIVE CELL (ITCC) merupakan kerangka yang
menggambarkan propagasi aktivitas konveksi di Kawasan Asia-Australia dalam
delapan fase. Peningkatan Moist Static Energy (MSE) diketahui dapat terjadi lebih
dahulu sebelum konveksi berkembang, sehingga MSE berpotensi menjadi indikator
awal propagasi konveksi. Penelitian ini menganalisis perubahan Moist Static
Energy (MSE) selama fase 4-7 ITCC (periode Juli-Februari) menggunakan data
radiosonde di empat stasiun, yaitu Medan, Pangkal Pinang, Jakarta, dan Surabaya,
beserta hubungannya dengan curah hujan.
Data yang digunakan meliputi data radiosonde dari Universitas of Wyoming dan
curah hujan dari data PERSIANN pada periode 2019-2023 dengan resolusi pentad.
Analisis dilakukan melalui penyusunan komposit tiap fase, profil vertikal
perubahan MSE,lag correlation antarstasiun, serta analisis korelasi spasial antara
MSE Pangkal Pinang dan curah hujan di Pulau Jawa.
Hasil menunjukkan MSE meningkat pada lapisan lembab bawah hingga menengah
(700-900 hPa) dan penambahannya makin besar ke arah selatan mengikuti jalur
transport kelembaban monsun Asia-Australia, dengan penambahan paling kecil di
Medan. Perubahan MSE merambat dari utara ke selatan, yaitu Pangkal Pinang
mendahului Jakarta sekitar 3 pentad (15 hari), sedangkan Jakarta dan Surabaya
berubah hampir bersamaan. Korelasi MSE Pangkal Pinang dengan curah hujan di
Pulau Jawa tergolong lemah, sehingga curah hujan di Jawa lebih dipengaruhi faktor
lain di luar perubahan MSE dari wilayah utara. Secara keseluruhan, hasil ini
mendukung gagasan bahwa peningkatan MSE dapat menjadi indikator awal
propagasi konveksi ITCC.
Perpustakaan Digital ITB