Pasar perumahan di Indonesia tengah mengalami pergeseran signifikan seiring dominasi milenial dan Generasi Z sebagai pembeli rumah pertama. Penelitian ini berangkat dari masalah bisnis yang dihadapi SEKA Living, pengembang perumahan di Bandung yang menghadapi rendahnya konversi penjualan meskipun potensi pasar besar, akibat penurunan daya beli generasi muda. Fenomena ini menciptakan paradoks terhadap teori modal manusia tradisional, di mana kapasitas pendapatan tidak lagi sejalan dengan kenaikan harga properti yang hiper-inflasi.
Meskipun studi terdahulu telah menelaah keterjangkauan, pengaruh sosiologis, dan adopsi teknologi secara parsial, terdapat celah kebaruan (novelty gap) dalam mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut ke dalam satu kerangka kerja komprehensif. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan menguji faktor eko- politik, sosiologis, dan teknologis sebagai prediktor kolektif keputusan pembelian hunian. Secara metodologis, studi ini menggunakan desain korelasi lintas- seksional kuantitatif dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) terhadap 217 responden di Bandung Raya.
Analisis data menunjukkan bahwa model ini mampu menjelaskan 36% varians keputusan pembelian rumah. Faktor eko-politik (0,409) teridentifikasi sebagai gatekeeper utama, mengonfirmasi bahwa kesiapan finansial dan dukungan kebijakan tetap menjadi determinan primer. Menariknya, faktor teknologi (0,200) memberikan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan tekanan sosiologis (0,178), menandakan pergeseran perilaku di mana utilitas digital kini lebih diutamakan oleh generasi digital-native. Rekomendasi strategis mencakup pengembangan skema pembiayaan adaptif serta integrasi fitur teknologi pada produk hunian guna menjembatani kesenjangan antara teori ekonomi dan realitas praktik pasar modern.
Perpustakaan Digital ITB