digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Marshauly Rachel Naibaho
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Percepatan pembangunan infrastruktur di Ibu Kota Nusantara (IKN) mendorong adopsi konstruksi modular, termasuk sistem panelisasi baja Modul WGF (WG Flatpack) pada bangunan Hunian Pekerja Konstruksi (HPK). Perencanaan mobile crane pada praktik saat ini masih mengandalkan perhitungan manual berbasis gambar dua dimensi dan intuisi teknis, sehingga rentan terhadap kesalahan pemilihan konfigurasi maupun posisi berdiri. Penelitian ini bertujuan menentukan kebutuhan lifting capacity dan standing position mobile crane yang optimal serta mengetahui manfaat pendekatan Building Information Modeling (BIM) dalam proses perencanaannya, dengan studi kasus bangunan Pekerja Terampil 1, HPK IKN Tahap II – Paket 2. Metode penelitian menggunakan kerangka sekuensial-iteratif yang mengintegrasikan perhitungan manual berdasarkan standar ASME B30.5-2018 dan EN 13000:2010 dengan verifikasi geometris pada Autodesk Revit. Hasil analisis pada crane kandidat SANY STC500C5 menunjukkan bahwa konfigurasi dua crane yang mengapit bangunan dari kedua ujung memanjang mampu menjangkau seluruh modul dengan radius kerja maksimum terverifikasi 21,087 m dan Load Utilization Factor 52,2–76,5% (? 85%). Verifikasi berbasis BIM juga mengungkap bahwa margin kebebasan horizontal terhadap tail swing menyusut hingga 0,400 m pada radius terjauh, kondisi kritis yang mudah terlewat pada peninjauan dua dimensi per-potongan. Penelitian menyimpulkan bahwa pendekatan berbasis BIM dapat menjadi usulan prosedur perencanaan mobile crane yang aplikatif bagi praktisi konstruksi modular.