Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa seismik gedung 30 lantai
dengan sistem struktur ganda (dual system) yang dianalisis menggunakan dua
pendekatan pemodelan fondasi, yaitu fixed base dan Soil–Structure Interaction
(SSI). Analisis dilakukan menggunakan metode Nonlinear Time History Analysis
(NLTHA) dengan input gempa tingkat Maximum Considered Earthquake (MCER)
pada dua klasifikasi tanah, yaitu Site Class SD (tanah sedang) dan Site Class SE
(tanah lunak).
Hasil analisis menunjukkan bahwa pemodelan SSI memberikan pengaruh
signifikan terhadap respons struktur dibandingkan asumsi fixed base. Pada Site
Class SE, nilai base shear mengalami penurunan sebesar sekitar 13–16%,
sedangkan pada Site Class SD penurunan berada pada kisaran 8–11%. Sebaliknya,
respons deformasi struktur meningkat, di mana story drift pada model SSI
meningkat hingga sekitar 9%, dan displacement puncak meningkat sebesar 6% pada
tanah sedang dan 10–16% pada tanah lunak. Meskipun terjadi peningkatan
deformasi, seluruh nilai drift maksimum masih berada di bawah batas 0,02 rad,
sehingga memenuhi kriteria kinerja yang disyaratkan.
Evaluasi tingkat kinerja struktur menunjukkan bahwa baik model fixed base
maupun SSI pada kedua klasifikasi tanah tetap berada pada level Life Safety (LS)
dengan nilai indeks performa rata-rata berkisar 0,40–0,68. Analisis kapasitas
fondasi menunjukkan bahwa gaya lateral maksimum yang bekerja pada tiang hasil
analisis struktur masih lebih kecil dibandingkan kapasitas lateral tiang tunggal dari
LPILE, serta kapasitas aksial tiang dari SPColumn, sehingga fondasi berada dalam
kondisi aman.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa efek interaksi tanah–struktur berperan
dalam mereduksi gaya gempa namun meningkatkan deformasi global struktur,
tanpa menurunkan tingkat kinerja struktur di bawah batas keselamatan yang
ditetapkan.
Perpustakaan Digital ITB