Penurunan tanah (land subsidence) di wilayah Jakarta berpotensi menimbulkan differential settlement yang memengaruhi kinerja struktur bawah tanah, khususnya sistem tunnel dan stasiun MRT Jakarta Fase 2A CP-203. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh differential settlement akibat land subsidence terhadap deformasi dan gaya dalam sistem tunnel–stasiun, membandingkan respon sambungan rigid connection dan semi-rigid connection, serta mengevaluasi kinerja struktur hingga periode analisis 100 tahun. Analisis dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan perangkat lunak Rocscience RS2 dan RS3, dengan land subsidence dimodelkan terutama melalui pendekatan pembebanan merata di permukaan sebagai representasi penurunan tanah jangka panjang, sementara pendekatan groundwater extraction dengan penurunan nilai total head digunakan secara terbatas sebagai model verifikasi mekanisme penurunan tanah. Pembebanan merata di permukaan dipilih sebagai pendekatan pemodelan karena memberikan hasil yang lebih konservatif. Evaluasi deformasi didasarkan pada parameter deviasi gradien penurunan vertikal [d(?z)/dx] pada tanah dan struktur tunnel. Hasil analisis dengan pendekatan pembebanan menunjukkan bahwa deviasi gradien penurunan tanah relatif kecil pada permukaan dan pada posisi di atas tunnel (? 0–2,3%), tetapi meningkat signifikan pada posisi di bawah tunnel hingga sekitar 47%, sedangkan respon deformasi struktural tunnel menunjukkan konsentrasi tertinggi pada zona sambungan stasiun–tunnel dengan deviasi gradien mencapai sekitar 90–100%. Perbandingan tipe sambungan menunjukkan bahwa rigid connection menghasilkan deformasi lebih kecil dengan gaya dalam lebih besar, sedangkan semi-rigid connection lebih mampu mengakomodasi deformasi vertikal dengan gaya dalam lebih rendah, dan hasil evaluasi kapasitas struktur menunjukkan bahwa seluruh segmentasi tunnel dan d-wall masih berada dalam batas aman hingga periode analisis 100 tahun.
Perpustakaan Digital ITB