Perkerasan lentur dapat didesain dengan metode yang berbeda, baik metode empiris maupun metode mekanistik, yang berpotensi menghasilkan struktur dan kinerja yang berbeda meskipun ditujukan untuk melayani beban lalu lintas rencana yang sama. Tugas Akhir ini bertujuan untuk membandingkan desain struktur perkerasan lentur yang dihasilkan dari dokumen perencanaan (desain eksisting), Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2024, dan Metode Analisa Komponen (MAK) 1987, dengan studi kasus Jalan Lingkar Utara Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Beban lalu lintas rencana ditentukan dari data survei, hingga menghasilkan CESA5 sebesar 29,178 juta ESA. Lima alternatif desain terbentuk. Pertama adalah Desain 01 atau desain eksisting, Desain 02 atau desain metode mekanistik MDPJ 2024, serta Desain 03, 04, dan 05, yang merupakan desain metode empiris MAK 1987 yang memiliki ITP identik sebesar 12,25 dengan kombinasi tebal lapisan berbeda. Kelima alternatif desain kemudian dianalisis secara mekanistik menggunakan program Pavement-PastDean untuk memperoleh repetisi beban akibat fatigue cracking (Nf) dan rutting (Nr).
Hasil analisis menunjukkan fatigue cracking sebagai mode kegagalan yang mengontrol pada seluruh alternatif desain. Desain 01, Desain 02, dan Desain 03 memenuhi syarat dengan rasio Nf/Nrencana berturut-turut 1,242; 2,033; dan 2,441, sedangkan Desain 04 dan Desain 05 gagal dengan Nf hanya 0,77 juta ESA, akibat lapisan beraspal yang sangat tipis, yaitu 10 cm. Temuan lainnya adalah ekivalensi nilai ITP pada MAK 1987 ternyata tidak menjamin ekivalensi kinerja struktur perkerasan, karena ketiga desain dengan ITP identik menghasilkan Nf yang jauh berbeda. Hasil analisis menunjukkan bahwa MDPJ 2024 dapat diandalkan sebagai acuan utama desain perkerasan lentur, tetapi tetap memerlukan verifikasi mekanistik lanjutan, sedangkan MAK 1987 masih dapat digunakan untuk desain cepat dengan syarat lapisan beraspal lebih diutamakan dan diverifikasi lebih lanjut secara mekanistik.
Perpustakaan Digital ITB