Identifikasi aktivitas sesar aktif di wilayah daratan DKI Jakarta, khususnya
Sesar Baribis-Kendeng, serta pemutakhiran peta sumber gempa nasional dalam
beberapa tahun terakhir telah mengubah paradigma risiko seismik terhadap
infrastruktur perkotaan. Gedung baja eksisting yang didesain berdasarkan peraturan
lama memerlukan evaluasi mendalam untuk memastikan ketahanannya terhadap
peningkatan seismic demand terbaru. Salah satu parameter kritis dalam analisis
nonlinear gedung baja adalah pemodelan sendi plastis pada elemen balok, yang
secara teoritis menentukan pola disipasi energi dan mekanisme keruntuhan struktur
secara keseluruhan. Penelitian ini difokuskan pada analisis level kinerja gedung
baja eksisting setinggi 49,5 meter di DKI Jakarta dengan mempertimbangkan
variasi lokasi penempatan sendi plastis pada elemen balok guna mendapatkan
prediksi mekanisme kerusakan yang lebih akurat.
Metodologi penelitian ini dilakukan melalui simulasi numerik
berbasis Nonlinear Time History Analysis (NLTHA). Sebagai input beban dinamik
riwayat waktu, digunakan 11 pasangan rekaman gempa asli yang telah melalui
proses spectral matching dan disesuaikan dengan orientasi Rotational Doubleperiod
100 (RotD100) sesuai standar ASCE 7-16 untuk menangkap respon
amplifikasi maksimum arah horizontal. Evaluasi dilakukan pada dua model
komparatif, yaitu Model A dengan penempatan sendi plastis pada muka kolom dan
Model B dengan penempatan sendi plastis pada jarak dua kali tinggi efektif kolom
dari muka kolom.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemutakhiran parameter
kegempaan tahun 2024 meningkatkan beban seismik pada struktur, gedung
eksisting tersebut masih memiliki kapasitas cadangan yang memadai dan masih
memenuhi kriteria aman yang disyaratkan dalam SNI 1726:2019. Model B terbukti
memberikan hasil yang lebih unggul dalam memprediksi perlindungan zona
sambungan kritis melalui mekanisme disipasi energi yang lebih stabil dibandingkan
Model A. Urutan pelelehan elemen secara konsisten dimulai dari elemen balok
(first yield), yang mengonfirmasi pemenuhan kriteria Strong Column-Weak Beam
(SCWB) aktual sehingga risiko keruntuhan tingkat (story collapse) dapat dihindari.
Berdasarkan kriteria penerimaan komponen yang ditetapkan dalam ASCE 41-17,
level kinerja global gedung berada pada kategori Life Safety (LS). Dengan
demikian, gedung baja eksisting tersebut disimpulkan masih aman dan layak
beroperasi tanpa memerlukan perkuatan struktur terhadap ancaman gempa terbaru.
Perpustakaan Digital ITB