digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Identifikasi aktivitas sesar aktif di wilayah daratan DKI Jakarta, khususnya Sesar Baribis-Kendeng, serta pemutakhiran peta sumber gempa nasional dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah paradigma risiko seismik terhadap infrastruktur perkotaan. Gedung baja eksisting yang didesain berdasarkan peraturan lama memerlukan evaluasi mendalam untuk memastikan ketahanannya terhadap peningkatan seismic demand terbaru. Salah satu parameter kritis dalam analisis nonlinear gedung baja adalah pemodelan sendi plastis pada elemen balok, yang secara teoritis menentukan pola disipasi energi dan mekanisme keruntuhan struktur secara keseluruhan. Penelitian ini difokuskan pada analisis level kinerja gedung baja eksisting setinggi 49,5 meter di DKI Jakarta dengan mempertimbangkan variasi lokasi penempatan sendi plastis pada elemen balok guna mendapatkan prediksi mekanisme kerusakan yang lebih akurat. Metodologi penelitian ini dilakukan melalui simulasi numerik berbasis Nonlinear Time History Analysis (NLTHA). Sebagai input beban dinamik riwayat waktu, digunakan 11 pasangan rekaman gempa asli yang telah melalui proses spectral matching dan disesuaikan dengan orientasi Rotational Doubleperiod 100 (RotD100) sesuai standar ASCE 7-16 untuk menangkap respon amplifikasi maksimum arah horizontal. Evaluasi dilakukan pada dua model komparatif, yaitu Model A dengan penempatan sendi plastis pada muka kolom dan Model B dengan penempatan sendi plastis pada jarak dua kali tinggi efektif kolom dari muka kolom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemutakhiran parameter kegempaan tahun 2024 meningkatkan beban seismik pada struktur, gedung eksisting tersebut masih memiliki kapasitas cadangan yang memadai dan masih memenuhi kriteria aman yang disyaratkan dalam SNI 1726:2019. Model B terbukti memberikan hasil yang lebih unggul dalam memprediksi perlindungan zona sambungan kritis melalui mekanisme disipasi energi yang lebih stabil dibandingkan Model A. Urutan pelelehan elemen secara konsisten dimulai dari elemen balok (first yield), yang mengonfirmasi pemenuhan kriteria Strong Column-Weak Beam (SCWB) aktual sehingga risiko keruntuhan tingkat (story collapse) dapat dihindari. Berdasarkan kriteria penerimaan komponen yang ditetapkan dalam ASCE 41-17, level kinerja global gedung berada pada kategori Life Safety (LS). Dengan demikian, gedung baja eksisting tersebut disimpulkan masih aman dan layak beroperasi tanpa memerlukan perkuatan struktur terhadap ancaman gempa terbaru.