digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800








DAFTAR PUSTAKA
EMBARGO  2029-08-10 

LAMPIRAN NESYA AMELLITA
EMBARGO  2029-08-10 

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) mencatatkan volume pergerakan penumpang transit yang besar, mencapai 2,28 juta penumpang pada tahun 2025. Namun, potensi ini belum terkonversi secara optimal menjadi aktivitas pariwisata yang memberikan dampak ekonomi bagi daerah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesiapan infrastruktur dan tata kelola konektivitas koridor bandara-kota, menganalisis persepsi fasilitas quasi-destination, preferensi, serta hambatan perjalanan (travel constraints) wisatawan transit, dan merumuskan strategi tata kelola kolaboratif lintas sektor. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam bersama enam instansi kunci (Otoritas Bandara Wilayah I, Kantor Imigrasi Soetta, InJourney Airports, PT KAI Commuter, Kementerian Pariwisata RI, dan Disparekraf DKI Jakarta), observasi spasial, serta studi dokumen. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur kepada 100 responden penumpang transit di CGK menggunakan teknik accidental sampling. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, policy gap analysis, rantai keputusan APSI (Awareness, Participation, Satisfaction, Influence), serta statistik deskriptif dan tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan struktur pasar transit CGK didominasi secara mutlak oleh segmen domestik dengan durasi dwell time ideal 4–24 jam. Hambatan utama yang mengunci penumpang di dalam terminal adalah ketakutan akan kemacetan (time risk), risiko birokrasi dan bagasi manual (border control risk), serta ketiadaan informasi wisata (information risk). Kereta bandara teridentifikasi sebagai faktor penentu utama yang dipilih oleh 70% responden karena kepastian waktu tempuh 45–50 menit menuju pusat kota. Temuan kualitatif mengungkap awareness gap akibat penutupan konter Tourist Information Center (TIC) di Terminal 2D serta empat kesenjangan tata kelola (strategic priority, cross-border, information, dan product packaging gaps). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengoptimalan pariwisata transit di CGK memerlukan pembentukan Joint Task Force lintas instansi, penyediaan express transit lane, reaktivasi TIC digital, serta formulasi paket rail and tour bundling berbasis jam (micro-time tours).