RUPTL 2025–2034 membutuhkan investasi besar untuk memperluas infrastruktur
ketenagalistrikan dan mempercepat transisi energi nasional. PT PLN (Persero)
harus melaksanakannya dengan tetap menjaga keterjangkauan tarif, batasan
keuangan, dan kapasitas pendanaan jangka panjang dalam skema cost-plus
dengan margin Public Service Obligation (PSO) sekitar 7%. Penelitian ini
menentukan tingkat minimum margin usaha PLN yang berdiri sendiri (margin
yang diterapkan dalam kerangka cost-plus PSO), menganalisis trade-off margin
PMN, dan memperkirakan kapasitas investasi langsung PLN tanpa dukungan
tambahan.
Penelitian menggunakan proyeksi keuangan deterministik jangka panjang dan
analisis skenario berdasarkan proyeksi RUPTL, laporan keuangan auditan,
laporan tahunan, keluaran perencanaan sistem, dan asumsi kebijakan. Skenario
dinilai menggunakan DSCR, Debt-to-EBITDA, utang berbunga, pendanaan
internal, dan kebutuhan pendanaan, sedangkan tarif listrik tetap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa margin 7% tanpa tambahan PMN belum
memadai untuk pelaksanaan penuh RUPTL. Di antara skenario yang dievaluasi,
margin usaha 10% merupakan alternatif mandiri minimum yang menjaga indikator
utama keuangan dalam batas yang dapat diterima tanpa tambahan PMN.
Margin yang lebih rendah tetap dapat diterapkan dengan PMN, yaitu sekitar
Rp240 triliun pada margin 7%, Rp160 triliun pada margin 8%, dan Rp80 triliun
pada margin 9%. Namun, PMN bergantung pada ketersediaan fiskal dan proses
persetujuan bertahap, sedangkan margin menyediakan pendanaan yang lebih
berulang dan dapat diprediksi.
Apabila margin 7% dipertahankan tanpa tambahan PMN, PLN dapat
mengeksekusi sekitar 87% dari rencana belanja modal langsung melalui
pengalihan investasi pembangkitan tertentu kepada Independent Power Producer
dan penataan ulang pencairan.
Secara keseluruhan, di antara skenario yang dievaluasi, margin usaha 10%
merupakan margin mandiri minimum sekaligus alternatif jangka panjang yang
lebih dipilih karena mampu menjaga indikator keuangan dalam batas yang
dipersyaratkan tanpa tambahan PMN, memberikan basis pendanaan yang lebih
berulang dan dapat diprediksi, serta mempertahankan kapasitas investasi
langsung PLN dalam RUPTL. Namun, pilihan ini tetap memiliki konsekuensi fiskal
karena kenaikan margin dapat meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi
dalam kondisi tarif tetap.
Perpustakaan Digital ITB