digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Annisa Cahya Ningrum
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Pantai Purus, Kota Padang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia sehingga menerima energi gelombang laut yang besar sepanjang tahun. Pembangunan groyne pada tahun 2005 yang dirancang untuk menahan sedimentasi dan meminimalkan erosi, namun dapat menyebabkan redistribusi sedimen yang tidak merata. Pembangunan bangunan pelindung pantai mampu menghasilkan akumulasi di sisi updrift dan erosi di sisi downdrift. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju dan pola perubahan garis pantai dengan meninjau longshore sediment transport serta mengevaluasi efektivitas struktur groyne. Metode yang digunakan adalah pemodelan numerik satu dimensi menggunakan perangkat lunak MIKE LITPACK dengan modul LITDRIFT dan LITLINE pada garis pantai sepanjang 1.000 meter. Pemodelan ini menggunakan input data iklim gelombang open source ERA5 selama 11 tahun (2015–2025). Hasil analisis menunjukkan bahwa gelombang dominan dari arah selatan hingga barat daya menghasilkan arus yang mendorong transpor sedimen ke arah utara. Laju total longshore sediment transport rata-rata mencapai 27,455,94 m3 /tahun, dengan volume tertinggi terjadi pada tahun 2016 sebesar 33,500,21 m3 /tahun. Simulasi perubahan garis pantai memperlihatkan bahwa keberadaan 11 groyne menyebabkan penambahan daratan (akresi) di sisi updrift (kiri) hingga, namun memicu kemunduran garis pantai (abrasi) yang signifikan di sisi downdrift (kanan). Dapat disimpulkan bahwa meskipun groyne efektif menahan laju sedimen, namun struktur ini menciptakan masalah abrasi lokal di sisi hilir arus. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan penerapan skema pelindung pantai alternatif yang lebih memadai untuk menjaga keseimbangan morfologi Pantai Purus.