Pantai Purus, Kota Padang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia sehingga
menerima energi gelombang laut yang besar sepanjang tahun. Pembangunan
groyne pada tahun 2005 yang dirancang untuk menahan sedimentasi dan
meminimalkan erosi, namun dapat menyebabkan redistribusi sedimen yang tidak
merata. Pembangunan bangunan pelindung pantai mampu menghasilkan akumulasi
di sisi updrift dan erosi di sisi downdrift. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju
dan pola perubahan garis pantai dengan meninjau longshore sediment transport
serta mengevaluasi efektivitas struktur groyne. Metode yang digunakan adalah
pemodelan numerik satu dimensi menggunakan perangkat lunak MIKE LITPACK
dengan modul LITDRIFT dan LITLINE pada garis pantai sepanjang 1.000 meter.
Pemodelan ini menggunakan input data iklim gelombang open source ERA5
selama 11 tahun (2015–2025). Hasil analisis menunjukkan bahwa gelombang
dominan dari arah selatan hingga barat daya menghasilkan arus yang mendorong
transpor sedimen ke arah utara. Laju total longshore sediment transport rata-rata
mencapai 27,455,94 m3
/tahun, dengan volume tertinggi terjadi pada tahun 2016
sebesar 33,500,21 m3
/tahun. Simulasi perubahan garis pantai memperlihatkan
bahwa keberadaan 11 groyne menyebabkan penambahan daratan (akresi) di sisi
updrift (kiri) hingga, namun memicu kemunduran garis pantai (abrasi) yang
signifikan di sisi downdrift (kanan). Dapat disimpulkan bahwa meskipun groyne
efektif menahan laju sedimen, namun struktur ini menciptakan masalah abrasi lokal
di sisi hilir arus. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan penerapan skema
pelindung pantai alternatif yang lebih memadai untuk menjaga keseimbangan
morfologi Pantai Purus.
Perpustakaan Digital ITB