digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Muhamad Farhan
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

Wilayah Jawa bagian barat merupakan kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan yang relatif aktif akibat pengaruh zona subduksi di selatan Pulau Jawa serta keberadaan sesar kerak dangkal aktif. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah ini memiliki potensi bahaya gempa bumi yang dominan, sehingga diperlukan analisis bahaya gempa bumi yang mampu merepresentasikan karakteristik kegempaan secara kuantitatif dan bersifat probabilistik. Penelitian tugas akhir ini dilakukan untuk menganalisis bahaya gempa bumi di wilayah Jawa bagian barat menggunakan pendekatan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung laju kegempaan berdasarkan estimasi b-value regional dan lokal pada masing-masing area sumber gempa untuk magnitudo ? Mc, menyusun kurva probabilitas gempa terlampaui sebagai fungsi magnitudo pada selang M 4,8–6,7, serta mengestimasi kurva bahaya gempa pada wilayah penelitian sebagai fungsi b-value regional dan lokal pada periode data jangka panjang dan jangka pendek. Wilayah penelitian mencakup Bogor, Bekasi, Jakarta, dan Purwakarta. Data yang digunakan berupa katalog gempa bumi dangkal dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) untuk periode 1963-2016 dan 2017-2022. Estimasi parameter seismisitas dilakukan menggunakan hubungan Gutenberg-Richter dengan metode Maximum Likelihood Estimation. Nilai tersebut digunakan untuk menghitung laju kemunculan gempa dan probabilitas kejadian gempa tahunan. Estimasi guncangan tanah dilakukan menggunakan model Ground Motion Prediction Equation (GMPE) Fukushima dan Tanaka (1992) dengan parameter magnitudo gempa dan jarak sumber ke titik observasi. Nilai Peak Ground Acceleration (PGA) digabungkan untuk memperoleh Mean PGA sebagai dasar penyusunan kurva bahaya gempa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju kemunculan dan probabilitas kejadian gempa menurun seiring peningkatan magnitudo. Kurva bahaya gempa menunjukan perbedaan tingkat bahaya seismik antar wilayah penelitian, dengan wilayah Purwakarta menunjukkan tingkat bahaya tertinggi dan wilayah Jakarta relatif lebih rendah. Estimasi menggunakan periode jangka panjang menunjukan hasil tingkat bahaya gempa yang lebih besar dibandingkan periode jangka pendek pada probabilitas terlampaui yang sama.