Abstrak - FATWA BINTANG ALYAFI
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Kemacetan lalu lintas di Metropolitan Bandung semakin memburuk seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas perkotaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan dampak Bandung Intra-Urban Toll Road (BIUTR) dan Light Rail Transit (LRT) Bandung Raya sebagai solusi transportasi yang direncanakan pemerintah terhadap kinerja lalu lintas dan potensi pengalihan moda, mengestimasi biaya konstruksi masing-masing infrastruktur, serta memberikan rekomendasi skenario pengembangan transportasi. Pemodelan transportasi makro dilakukan dengan PTV Visum pada empat skenario (Do Nothing, BIUTR, LRT, dan kombinasi keduanya) untuk jam puncak sore tahun 2032 dan 2037, sedangkan biaya konstruksi diestimasi dengan metode estimasi historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2032 kondisi Do Nothing menghasilkan total waktu tundaan sebesar 20.844 jam dengan kecepatan rata-rata kendaraan mobil 32,89 km/jam. BIUTR hanya menurunkan total waktu tundaan sebesar 2,56% tanpa perubahan kecepatan yang berarti, sedangkan LRT menurunkannya sebesar 24,11% dengan kecepatan naik menjadi 34,71 km/jam seiring estimasi pengalihan moda mobil dan motor sebesar 19% dan 4%, dan kombinasi keduanya menghasilkan penurunan terbesar sebesar 25,47%. Pada tahun 2037 seluruh skenario kembali mengalami peningkatan waktu tundaan akibat pertumbuhan permintaan perjalanan. Estimasi biaya konstruksi BIUTR, LRT, dan kombinasi keduanya berturut-turut adalah Rp11,02 triliun (Rp570,97 miliar/km), Rp11,29 triliun (Rp719,61 miliar/km), dan Rp22,31 triliun (Rp1,29 triliun/km). Dengan kinerja jaringan jalan sebagai parameter utama, skenario kombinasi BIUTR dan LRT direkomendasikan sebagai skenario paling optimal, dengan catatan kedua infrastruktur bersifat saling melengkapi karena, selain pergerakan manusia, pergerakan barang juga tetap memerlukan jaringan jalan.
Perpustakaan Digital ITB