Perbedaan karakteristik Kampus Ganesha yang padat dan macet dengan Kampus
Jatinangor yang sub-urban dan minim angkutan umum menuntut mahasiswa ITB
melakukan mobilitas harian yang pemilihan modanya sering hanya berdasarkan
biaya langsung (out-of-pocket cost) tanpa memperhitungkan nilai waktu secara
utuh. Penelitian ini menganalisis komparasi biaya transportasi (Generalized Cost)
menuju Kampus Ganesha dan Jatinangor untuk empat moda, yaitu motor pribadi,
mobil pribadi, angkutan online, dan angkutan umum, yang dihitung sebagai
penjumlahan Biaya Operasional Kendaraan (BOK)/tarif dengan biaya waktu
berbasis pendekatan Value of Time dari uang saku bulanan. Data primer diperoleh
dari 207 responden (160 mahasiswa Kampus Ganesha dan 47 mahasiswa Kampus
Jatinangor) yang dikelompokkan ke dalam empat zona radius domisili (0–5, 5–10,
10–15, 15–20 km). Hasil menunjukkan motor pribadi 100–125cc merupakan moda
paling ekonomis untuk radius 5–20 km di kedua kampus, sedangkan pada radius 0–
5 km moda termurah berbeda antar kampus, yaitu angkutan online di Ganesha dan
angkutan umum di Jatinangor. Mobil pribadi konsisten menjadi moda termahal
dengan biaya rata-rata Rp74.373/km di Ganesha dan Rp72.919/km di Jatinangor,
akibat besarnya beban biaya tetap kepemilikan kendaraan. Perbedaan karakteristik
infrastruktur kedua kampus menghasilkan sensitivitas biaya yang berbeda terhadap
jarak tempuh, sehingga strategi mitigasi biaya transportasi mahasiswa perlu
disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi kampus.
Perpustakaan Digital ITB