digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Kenzu Viriyananda
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Perbedaan karakteristik Kampus Ganesha yang padat dan macet dengan Kampus Jatinangor yang sub-urban dan minim angkutan umum menuntut mahasiswa ITB melakukan mobilitas harian yang pemilihan modanya sering hanya berdasarkan biaya langsung (out-of-pocket cost) tanpa memperhitungkan nilai waktu secara utuh. Penelitian ini menganalisis komparasi biaya transportasi (Generalized Cost) menuju Kampus Ganesha dan Jatinangor untuk empat moda, yaitu motor pribadi, mobil pribadi, angkutan online, dan angkutan umum, yang dihitung sebagai penjumlahan Biaya Operasional Kendaraan (BOK)/tarif dengan biaya waktu berbasis pendekatan Value of Time dari uang saku bulanan. Data primer diperoleh dari 207 responden (160 mahasiswa Kampus Ganesha dan 47 mahasiswa Kampus Jatinangor) yang dikelompokkan ke dalam empat zona radius domisili (0–5, 5–10, 10–15, 15–20 km). Hasil menunjukkan motor pribadi 100–125cc merupakan moda paling ekonomis untuk radius 5–20 km di kedua kampus, sedangkan pada radius 0– 5 km moda termurah berbeda antar kampus, yaitu angkutan online di Ganesha dan angkutan umum di Jatinangor. Mobil pribadi konsisten menjadi moda termahal dengan biaya rata-rata Rp74.373/km di Ganesha dan Rp72.919/km di Jatinangor, akibat besarnya beban biaya tetap kepemilikan kendaraan. Perbedaan karakteristik infrastruktur kedua kampus menghasilkan sensitivitas biaya yang berbeda terhadap jarak tempuh, sehingga strategi mitigasi biaya transportasi mahasiswa perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi kampus.