digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, dikembangkan sebagai pelabuhan strategis nasional yang terdiri dari dua terminal, yaitu Patimban International Car Terminal (PICT) yang sudah beroperasi dan Patimban Global Gateway Terminal (PGT) yang masih dalam tahap pembangunan. Penelitian ini menganalisis kinerja operasional bongkar muat kedua terminal menggunakan metode deskriptif kuantitatif, kemudian merumuskan langkah optimalisasi agar kinerjanya memenuhi standar yang ditetapkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL). Analisis PICT dilakukan dengan memodelkan cycling time kendaraan dalam 7 tahap berdasarkan data operasional aktual. Hasilnya, produktivitas PICT sebesar 49 CBU/jam masih di bawah target 100 CBU/jam. BOR (26,98%) dan YOR (26,51%) sudah memenuhi standar, sedangkan rasio ET tercatat 84,24% pada November 2023, meski rata-rata tahunannya (52,35%) masih di bawah standar 70%. Penelusuran lebih lanjut menemukan bahwa hambatan produktivitas bersumber dari cycling time itu sendiri, terutama pada tiga titik yang dipakai bersama oleh seluruh driver dalam satu gang, yaitu jalur ramp, lasher, dan unit shuttle. Optimalisasi dilakukan melalui simulasi kombinasi layout parkir dan jumlah driver menggunakan MATLAB, dan menghasilkan rekomendasi layout baru dengan penambahan driver dari 8 menjadi 11 orang serta unit shuttle dari 1 menjadi 2 unit, sehingga produktivitas naik menjadi 107,02 CBU/jam. Analisis PGT menggunakan pendekatan cycling time peralatan bongkar muat container (QCC, ASC, dan Head Truck) berdasarkan data rencana operasional. BCH efektif QCC diperoleh sebesar 25,6 B/C/H, sudah melampaui target 25 B/C/H, dengan B/S/H sebesar 51,2 box/ship/hour menggunakan 2 unit QCC. Kebutuhan minimum peralatan dioptimalkan melalui simulasi 2.016 skenario kombinasi jumlah QCC, ASC, dan Head Truck pada tiga variasi asumsi akselerasi crane. Hasilnya, konfigurasi optimal yang konsisten pada ketiga variasi akselerasi adalah 1 unit QCC Konecranes, 2 unit ASC, dan 3 unit Head Truck, dengan BCH sebesar 25,61–27,39 B/C/H dan ET sebesar 96,48–96,70%. Skenario 21 dengan rasio 1:2:5 digunakan sebagai pembanding karena memberikan urutan utilisasi QCC, ASC, dan Head Truck yang sesuai dengan prioritas pemanfaatan alat, namun membutuhkan jumlah Head Truck yang lebih banyak dengan peningkatan utilisasi ASC yang relatif kecil. Dengan demikian, Skenario 19 dipilih sebagai konfigurasi optimal berdasarkan jumlah peralatan minimum yang tetap memenuhi target kinerja dengan tingkat utilisasi peralatan yang tinggi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi PT Pelabuhan Patimban Internasional dalam meningkatkan kinerja operasional bongkar muat di kedua terminal.