Campuran AC-WC sebagai lapis aus pada perkerasan lentur menerima langsung
beban lalu lintas dan paparan lingkungan, sehingga memerlukan ketahanan yang
memadai terhadap kelembapan, deformasi permanen, dan kehilangan massa akibat
pelepasan butir. Pada kondisi tropis, keberadaan air dapat melemahkan ikatan
aspal-agregat, sedangkan penuaan dapat mengubah kekakuan binder dan respons
campuran terhadap berbagai mekanisme kerusakan. Penggunaan aspal modifikasi
PG70 elastomer dan anti-stripping agent (ASA) menjadi salah satu upaya untuk
meningkatkan kinerja campuran. Namun, efektivitas ASA perlu dievaluasi secara
multiparameter karena setiap pengujian membaca mekanisme kerusakan yang
berbeda. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar optimum ASA pada Kadar
Aspal Optimum (KAO) berdasarkan Marshall Immersion serta mengevaluasi
efektivitasnya terhadap kinerja campuran AC-WC modifikasi PG70 elastomer pada
kondisi penuaan dan kelembapan.
Penelitian dilakukan pada skala laboratorium menggunakan campuran AC-WC
dengan aspal PG70 elastomer dan ASA cair Wetbond-SP. KAO ditentukan melalui
pengujian Marshall dan analisis volumetrik, sedangkan kadar optimum ASA
ditentukan melalui Marshall Immersion pada variasi 0,2%, 0,3%, 0,4%, dan 0,5%
terhadap berat aspal. Kelayakan kadar ASA terpilih juga dievaluasi melalui
pengujian kompatibilitas ASA dengan aspal PG70. Setelah KAO dan kadar ASA
optimum diperoleh, campuran tanpa ASA dan campuran dengan ASA optimum
diuji pada kondisi unaged, short-term aging, dan long-term aging. Evaluasi tingkat
campuran dilakukan melalui Indirect Tensile Strength dan Tensile Strength Ratio
(ITS/TSR), Hamburg Wheel Tracking Device (HWTD) pada wet conditioning 60°C
hingga 10.000 passes, dan Cantabro Loss Test. Pengujian Dynamic Shear
Rheometer (DSR) digunakan sebagai analisis pendukung pada tingkat binder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa KAO campuran diperoleh sebesar 5,90%,
sedangkan kadar optimum ASA ditetapkan sebesar 0,3% terhadap berat aspal
berdasarkan Stabilitas Marshall Sisa tertinggi, yaitu 97,46%, dibandingkan
campuran tanpa ASA sebesar 91,72%. Kelayakan kadar tersebut juga dievaluasi
ii
melalui hasil kompatibilitas yang menunjukkan bahwa sistem aspal PG70 dengan
ASA 0,3% terhadap berat aspal masih stabil, homogen, dan memiliki kemampuan
pelapisan awal yang memadai terhadap pengaruh air. Pada pengujian ITS/TSR,
campuran dengan ASA menunjukkan nilai TSR lebih tinggi dibandingkan
campuran tanpa ASA pada seluruh kondisi penuaan, yaitu 95,21% terhadap 93,05%
pada unaged, 89,79% terhadap 88,94% pada short-term aging, dan 95,18%
terhadap 92,75% pada long-term aging. Pada pengujian HWTD, penambahan ASA
secara konsisten menurunkan rut depth akhir, yaitu dari 19,03 mm menjadi 14,93
mm pada unaged, dari 6,46 mm menjadi 5,81 mm pada short-term aging, dan dari
20,17 mm menjadi 15,12 mm pada long-term aging, dengan pengaruh paling
menonjol pada long-term aging berupa penurunan rut depth akhir sekitar 25%.
Interpretasi HWTD tetap dibaca melalui kombinasi rut depth akhir, SIP, dan bentuk
kurva deformasi. Pada Cantabro Loss Test, campuran dengan ASA juga
menunjukkan kehilangan massa lebih rendah pada seluruh kondisi penuaan, yaitu
0,79%, 3,24%, dan 2,55%, dibandingkan campuran tanpa ASA sebesar 1,68%,
3,45%, dan 3,10%.
Secara keseluruhan, penambahan ASA Wetbond-SP 0,3% terhadap berat aspal
menunjukkan kontribusi multiparameter terhadap kinerja campuran AC-WC
modifikasi PG70 elastomer pada sistem material yang diteliti. Kontribusi tersebut
terlihat dari peningkatan retensi kuat tarik, penurunan rut depth akhir, dan
berkurangnya kehilangan massa dibandingkan campuran tanpa ASA. Dengan
demikian, hasil penelitian ini diposisikan sebagai perbaikan relatif pada kondisi
laboratorium yang sama dan masih memerlukan verifikasi apabila diterapkan pada
material atau kondisi pelaksanaan yang berbeda.
Perpustakaan Digital ITB