digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Irwan Nasihin
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Campuran AC-WC sebagai lapis aus pada perkerasan lentur menerima langsung beban lalu lintas dan paparan lingkungan, sehingga memerlukan ketahanan yang memadai terhadap kelembapan, deformasi permanen, dan kehilangan massa akibat pelepasan butir. Pada kondisi tropis, keberadaan air dapat melemahkan ikatan aspal-agregat, sedangkan penuaan dapat mengubah kekakuan binder dan respons campuran terhadap berbagai mekanisme kerusakan. Penggunaan aspal modifikasi PG70 elastomer dan anti-stripping agent (ASA) menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja campuran. Namun, efektivitas ASA perlu dievaluasi secara multiparameter karena setiap pengujian membaca mekanisme kerusakan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar optimum ASA pada Kadar Aspal Optimum (KAO) berdasarkan Marshall Immersion serta mengevaluasi efektivitasnya terhadap kinerja campuran AC-WC modifikasi PG70 elastomer pada kondisi penuaan dan kelembapan. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium menggunakan campuran AC-WC dengan aspal PG70 elastomer dan ASA cair Wetbond-SP. KAO ditentukan melalui pengujian Marshall dan analisis volumetrik, sedangkan kadar optimum ASA ditentukan melalui Marshall Immersion pada variasi 0,2%, 0,3%, 0,4%, dan 0,5% terhadap berat aspal. Kelayakan kadar ASA terpilih juga dievaluasi melalui pengujian kompatibilitas ASA dengan aspal PG70. Setelah KAO dan kadar ASA optimum diperoleh, campuran tanpa ASA dan campuran dengan ASA optimum diuji pada kondisi unaged, short-term aging, dan long-term aging. Evaluasi tingkat campuran dilakukan melalui Indirect Tensile Strength dan Tensile Strength Ratio (ITS/TSR), Hamburg Wheel Tracking Device (HWTD) pada wet conditioning 60°C hingga 10.000 passes, dan Cantabro Loss Test. Pengujian Dynamic Shear Rheometer (DSR) digunakan sebagai analisis pendukung pada tingkat binder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KAO campuran diperoleh sebesar 5,90%, sedangkan kadar optimum ASA ditetapkan sebesar 0,3% terhadap berat aspal berdasarkan Stabilitas Marshall Sisa tertinggi, yaitu 97,46%, dibandingkan campuran tanpa ASA sebesar 91,72%. Kelayakan kadar tersebut juga dievaluasi ii melalui hasil kompatibilitas yang menunjukkan bahwa sistem aspal PG70 dengan ASA 0,3% terhadap berat aspal masih stabil, homogen, dan memiliki kemampuan pelapisan awal yang memadai terhadap pengaruh air. Pada pengujian ITS/TSR, campuran dengan ASA menunjukkan nilai TSR lebih tinggi dibandingkan campuran tanpa ASA pada seluruh kondisi penuaan, yaitu 95,21% terhadap 93,05% pada unaged, 89,79% terhadap 88,94% pada short-term aging, dan 95,18% terhadap 92,75% pada long-term aging. Pada pengujian HWTD, penambahan ASA secara konsisten menurunkan rut depth akhir, yaitu dari 19,03 mm menjadi 14,93 mm pada unaged, dari 6,46 mm menjadi 5,81 mm pada short-term aging, dan dari 20,17 mm menjadi 15,12 mm pada long-term aging, dengan pengaruh paling menonjol pada long-term aging berupa penurunan rut depth akhir sekitar 25%. Interpretasi HWTD tetap dibaca melalui kombinasi rut depth akhir, SIP, dan bentuk kurva deformasi. Pada Cantabro Loss Test, campuran dengan ASA juga menunjukkan kehilangan massa lebih rendah pada seluruh kondisi penuaan, yaitu 0,79%, 3,24%, dan 2,55%, dibandingkan campuran tanpa ASA sebesar 1,68%, 3,45%, dan 3,10%. Secara keseluruhan, penambahan ASA Wetbond-SP 0,3% terhadap berat aspal menunjukkan kontribusi multiparameter terhadap kinerja campuran AC-WC modifikasi PG70 elastomer pada sistem material yang diteliti. Kontribusi tersebut terlihat dari peningkatan retensi kuat tarik, penurunan rut depth akhir, dan berkurangnya kehilangan massa dibandingkan campuran tanpa ASA. Dengan demikian, hasil penelitian ini diposisikan sebagai perbaikan relatif pada kondisi laboratorium yang sama dan masih memerlukan verifikasi apabila diterapkan pada material atau kondisi pelaksanaan yang berbeda.