digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Ketersediaan air permukaan merupakan komponen utama perencanaan dan pengelolaan sumber daya air. DAS Citarum memiliki peran strategis sebagai penyedia air untuk kebutuhan domestik, irigasi, industri, dan lingkungan di Provinsi Jawa Barat. Perubahan tata guna lahan yang intensif di wilayah hulu DAS Citarum telah mempengaruhi respon hidrologi DAS dan mengubah pola ketersediaan air permukaan. Perencanaan alokasi air di setiap DAS dituangkan dalam dokumen Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) yang disusun oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Akan tetapi, perencanaan alokasi air saat ini masih mengandalkan debit historis dan pendekatan pemodelan yang memiliki keterbatasan dalam merepresentasikan pengaruh perubahan penggunaan lahan serta dinamika komponen neraca air secara berkelanjutan. Perubahan penggunaan lahan tersebut berpotensi menurunkan kestabilan ketersediaan air permukaan, terutama pada musim kemarau. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pemodelan hidrologi berbasis proses yang mampu merepresentasikan neraca air secara komprehensif. Penelitian ini menggunakan Soil and Water Assessment Tool (SWAT+) sebagai model hidrologi berbasis proses dan kontinu yang mampu mensimulasikan komponen neraca air. Alasan pemilihan model ini karena SWAT+ mampu mensimulasikan komponen neraca air secara kontinu serta mengintegrasikan faktor iklim, topografi, jenis tanah, dan penggunaan lahan dalam menganalisis ketersediaan air jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketersediaan air permukaan DAS Citarum Hulu Tahun 2024 menggunakan model Soil and Water Assessment Tool (SWAT+) serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan estimasi ketersediaan air pada dokumen RAAT BBWS Citarum Tahun 2024. Analisis ketersediaan air dilakukan terhadap 12 Sub-DAS Citarum Hulu. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model SWAT+ memiliki kinerja yang memadai dalam merepresentasikan debit sungai dengan nilai Nash-Sutcliffe Efficiency (NSE) sebesar 0,673 pada periode kalibrasi dan 0,575 pada periode validasi. Nilai Percent Bias (PBIAS) pada periode kalibrasi dan validasi masing-masing sebesar 10,695% dan -7,871%, sedangkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,70 dan 0,714. Debit andalan Q20, Q50, dan Q80 hasil simulasi digunakan untuk merepresentasikan kondisi basah, normal, dan kering pada masing-masing SubDAS. Hasil perbandingan pada 10 sub-DAS representatif menunjukkan bahwa estimasi ketersediaan air berbasis SWAT+ cenderung lebih rendah dibandingkan RAAT pada seluruh kondisi hidrologi. Rata-rata deviasi yang terjadi bervariasi antara -0,4% hingga -76,6%. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik fisik masingmasing sub-DAS. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya pengaruh representasi proses hidrologi, kondisi penggunaan lahan, serta karakteristik spasial DAS terhadap estimasi ketersediaan air. Penelitian ini menunjukkan bahwa SWAT+ dapat digunakan untuk mengestimasi ketersediaan air permukaan secara spasial dan temporal melalui pendekatan pemodelan berbasis proses, serta mendukung perencanaan alokasi air yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi hidrologi DAS.