Pertumbuhan populasi dan urbanisasi telah mendorong peningkatan kebutuhan air bersih, terutama di kawasan perkotaan. Sayangnya, ketersediaan air bersih semakin menurun akibat pencemaran, eksploitasi air tanah yang berlebihan, dan dampak perubahan iklim. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air menjadikan pengelolaan permintaan sebagai strategi penting dalam konservasi sumber daya air. Gedung sebagai salah satu pengguna air dalam skala besar perlu memiliki strategi konservasi yang terencana agar dapat berkontribusi dalam pengurangan tekanan terhadap ketersediaan air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dan kelayakan ekonomi dari penerapan strategi konservasi air di gedung eksisting, dengan studi kasus Gedung Center for Research and Community Services (CRCS), Institut Teknologi Bandung. Tiga strategi utama yang dikaji meliputi penggantian perangkat plumbing berdebit rendah, pemanfaatan air hujan (rainwater harvesting), dan penggunaan ulang greywater (greywater reuse). Analisis dilakukan dengan menghitung penggunaan air awal dibandingkan dengan efisiensi penggunaan air setelah melakukan simulasi strategi konservasi air menggunakan STELLA. Penerapan strategi konservasi air greywater reuse memberikan efisiensi tertinggi sebesar 30,7%, diikuti oleh strategi Rainwater Harvesting sebesar 25,3%, dan strategi flushing efisien dengan efisiensi paling kecil 3,1%. Secara analisis ekonomi langsung, rencana konservasi air yang diusulkan belum tergolong menguntungkan dalam rentang waktu 15 tahun akibat tingginya biaya modal awal dibandingkan selisih tarif air PDAM. Kombinasi strategi RWH dan greywater reuse (S6) menempati urutan pertama sebagai strategi terbaik dengan skor tertinggi sebesar 0,91. Penerapan strategi greywater reuse mandiri (S3) menduduki peringkat kedua dengan skor 0,83. Strategi konservasi air secara kombinasi (S7) berada pada peringkat ketiga dengan perolehan skor sebesar 0,76.
Perpustakaan Digital ITB