digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Setiap bendungan berpotensi mengalami keruntuhan akibat bencana seperti gempa bumi atau peristiwa lainnya yang dapat menyebabkan keruntuhan bendungan. Keruntuhan bendungan akibat cuaca ekstrem sulit diprediksi dan diantisipasi sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang besar. Studi ini menganalisis kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh potensi keruntuhan Bendungan Pamukkulu di Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Cuaca ekstrem dipertimbangkan sebagai faktor utama penyebab keruntuhan untuk memproyeksikan skenario terburuk yang mungkin terjadi. Probable Maximum Precipitation (PMP), yaitu curah hujan maksimum yang mungkin terjadi di suatu wilayah, dihitung dengan menggunakan metode Hershfield. Debit inflow yang digunakan untuk analisis adalah Probable Maximum Flood (PMF). Pemilihan metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) dilakukan dengan menggunakan metode Creager. Simulasi keruntuhan Bendungan Pamukkulu dan sebaran banjir dilakukan dengan bantuan perangkat lunak HEC-RAS v6.6. HEC-RAS digunakan untuk untuk memodelkan genangan banjir yang terjadi. Kemudian hasil pemodelan genangan akan digunakan dalam analisis kerugian ekonomi.