Sektor pendidikan Islam terpadu di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan, dengan jaringan JSIT berkembang dari 100 menjadi lebih dari 2.300 sekolah sejak 2003. Namun, sekolah Islam terpadu premium masih terkonsentrasi di Jakarta Selatan dan Pusat, sehingga Jakarta Timur dengan 3,25 juta penduduk dan 550.000 anak usia sekolah belum terlayani optimal. Penelitian ini menilai kelayakan pendirian Sekolah Islam Terpadu Mustafa melalui konversi lahan bekas food court seluas 5.000 m² di Condet, Jakarta Timur. Empat aspek kelayakan diteliti: kelayakan pasar melalui Porter's Five Forces, kelayakan organisasi melalui Resource-Based View (RBV), kelayakan finansial menggunakan capital budgeting (NPV, IRR, Payback Period, Profitability Index), dan analisis risiko. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran dengan data primer dari wawancara calon orang tua, pemilik lahan, dan konsultan pendidikan, serta data sekunder dari BPS, JSIT Indonesia, dan analisis kompetitor.
Temuan mengkonfirmasi kelayakan proyek. Analisis Porter's Five Forces menunjukkan industri cukup menarik dengan kesenjangan pasar di Jakarta Timur. Wawancara dengan lima calon orang tua mengidentifikasi beban perjalanan sebagai masalah kritis, dengan empat dari lima menyatakan minat pembelian kuat. Analisis RBV mengidentifikasi dua kompetensi inti sebagai sumber keunggulan kompetitif: struktur modal bebas utang (IDR 10,5 miliar) dan lokasi strategis. Analisis keuangan menghasilkan NPV IDR 8,93 miliar, IRR 26,28% (melebihi WACC 14%), Payback Period 4,83 tahun, dan Profitability Index 1,85. Analisis sensitivitas mengidentifikasi biaya pendidikan sebagai variabel paling kritis (±236,5% dampak NPV), diikuti biaya operasional (?193%) dan pendaftaran siswa (±159,3%). Analisis skenario mengkonfirmasi ketahanan proyek bahkan dalam kondisi pesimistis. Penelitian menyimpulkan proyek layak secara finansial dan merupakan investasi viable bagi pemilik.
Perpustakaan Digital ITB