digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Yuslia Anggraeni
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

COVER Yuslia Anggraeni
Terbatas  Rita Nurainni, S.I.Pus
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Yuslia Anggraeni
Terbatas  Rita Nurainni, S.I.Pus
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Yuslia Anggraeni
Terbatas  Rita Nurainni, S.I.Pus
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Yuslia Anggraeni
Terbatas  Rita Nurainni, S.I.Pus
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Yuslia Anggraeni
Terbatas  Rita Nurainni, S.I.Pus
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Yuslia Anggraeni
Terbatas  Rita Nurainni, S.I.Pus
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Yuslia Anggraeni
Terbatas  Rita Nurainni, S.I.Pus
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN Yuslia Anggraeni
Terbatas  Rita Nurainni, S.I.Pus
» Gedung UPT Perpustakaan

Kekeringan merupakan sebuah bencana yang penting untuk dikaji, dilihat dari jumlah kejadian kekeringan yang tercatat sebagai bencana terbesar kedua di Indonesia pada tahun 2007. Kajian mengenai kekeringan dari sudut pandang ilmu meteorologi dilakukan dengan menggunakan suatu indeks yang dapat mengidentifikasi terjadinya kekeringan di suatu wilayah. Salah satu dari banyak indeks kekeringan yang dapat digunakan adalah Standardized Precipitation Index (SPI). Dalam penelitian ini, SPI digunakan untuk mengkaji pengaruh fenomena El Nino dan Dipole Mode (+) terhadap tingkat kekeringan di Indonesia. Selain itu, SPI juga digunakan untuk melakukan pemetaan ancaman bahaya (hazard) kekeringan. SPI dihitung menggunakan data curah hujan klimatologis sepanjang lima puluh tahun (1958 – 2007) yang disediakan oleh GPCC yang telah divalidasi di tiga lokasi (Tegal, Bandung, Jakarta). Dengan menghitung indeks SPI, baik SPI 3 bulanan maupun SPI 6 bulanan untuk seluruh wilayah Indonesia dapat digunakan untuk menentukan indeks bahaya kekeringan (DHI). Nilai DHI tersebut kemudian digunakan untuk membuat peta tingkat bahaya kekeringan wilayah Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa SPI dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahaya kekeringan di Indonesia. Varibilitas spasial dari frekuensi SPI juga menunjukkan pengaruh dari fenomena El Nino terhadap kekeringan di wilayah Indonesia timur dan pengaruh fenomena Dipole Mode (+) pada kekeringan di wilayah Indonesia Barat. Hasil analisis korelasi antara SPI dan produksi padi di daerah Karawang juga menunjukkan bahwa SPI dapat dijadikan indikator bahaya kekeringan di wilayah Indonesia. Peta bahaya kekeringan SPI 3 bulanan menunjukkan Pulau Jawa bagian Barat dan Tengah, Kalimantan bagian Timur dan Tengah, Sumatera bagian Selatan, Papua, Sulawesi Barat, Maluku Utara termasuk dalam kelas sangat tinggi tingkat bahaya kekeringannya, sedangkan menurut peta bahaya kekeringan SPI 6 bulanan menunjukkan Pulau Jawa bagian Barat dan Tengah, Bangka Belitung, Kalimantan bagian Timur, Tengah dan Barat, Irian Jaya Barat, dan Papua yang termasuk dalam kelas sangat tinggi tingkat bahaya kekeringannya. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode SPI baik untuk diterapkan dalam kajian kekeringan di Indonesia.