Peranan perairan tropis termasuk Indonesia sebagai CO2 source menjadi perhatian
penting untuk memahami apakah lautan Indonesia berkontribusi terhadap
pelepasan CO2 ke atmosfer. Walaupun begitu, pelepasan CO2 pada perairan
dangkal lebih rendah dibandingkan dengan laut lepas. Hal tersebut dikarenakan
pada perairan dangkal terdapat ekosistem karbon biru yang salah satunya adalah
padang lamun/seagrass meadows. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui peranan padang lamun dalam menyimpan organic carbon stock
seagrass (OCS-SG) maupun organic carbon stock sediment (OCS-S) serta fluks
CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa; mengkaji pola harian fluks CO2;
menganalisis faktor dominan dalam pengendapan OCS dan nilai fluks CO2; serta
melakukan pemodelan hidrodinamika dan biogeokimia perairan menggunakan
Massachusetts Institute of Technology general circulation model (MITgcm). Data
yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data observasi dan data model.
Pengambilan data observasi dilakukan pada musim timur (Agustus 2022) dan barat
(Februari 2023) menggunakan metode systematic sampling di perairan Jepara (5
stasiun) dan Karimunjawa (7 stasiun). Analisis OCS-SG dan OCS-S menggunakan
metode loss on ignition. Model biogeokimia dan fluks CO2 menggunakan MITgcm
dengan periode simulasi 1 Januari 2022–31 Mei 2024. Uji statistik dilakukan
menggunakan Principal Component Analysis (PCA), one-way ANOVA, korelasi,
dan nonmetric multidimensional scaling.
Hasil observasi menunjukkan bahwa jenis lamun dengan OCS-SG tertinggi adalah
Oceana serrulata (Jepara) dan Thalassia hemprichii (Karimunjawa). Tingginya
OCS-S dan OCS-SG di perairan Jepara (49,6±2,0 dan 19,25±1,84 gCorg m?2
)
dibandingkan Karimunjawa (49,1±1,7 dan 8,98±0,47 gCorg m?2
) memiliki
keterkaitan dengan fluks CO2. Peranan perairan Jepara dan Karimunjawa sebagai
CO2 source dengan nilai fluks CO2 musim timur dan barat di perairan Jepara lebih
rendah (0,006±0,0006 dan 0,021±0,002 molC m?2 th?1
) dibandingkan dengan
Karimunjawa (0,052±0,003 dan 0,065±0,002 molC m?2 th?1
). Tingginya fluks CO2
di Karimunjawa dikarenakan adanya tambahan source carbonate di stasiun
mangrove yang dekat perairan padang lamun, kalsifikasi dari makroalga Padina
pavonica, dan kalsifikasi dari calcareous epifit. Beberapa faktor lainnya turut
meningkatkan fluks CO2 seperti suhu permukaan laut (SPL) dan koefisien transfer
gas (kwa). Hasil analisis PCA menunjukkan variabel OCS-S dipengaruhi oleh
variabel-variabel yang berbeda tergantung pada lokasi perairan. Di perairan Jepara,
OCS-S dominan dipengaruhi oleh dry bulk density (korelasi negatif: r = -0,814 dan p-value < 0,001) dan total suspended solid (korelasi positif: r = 0,811 dan p-value
< 0,001). Di perairan Karimunjawa OCS-S lebih dipengaruhi oleh karakteristik
biologis lamun, yaitu kerapatan lamun, above-ground biomass dan below ground
biomass dengan korelasi sebesar 0,572; 0,569; dan 0,482 dengan p-value < 0,001.
Walaupun kedua perairan berperan sebagai CO2 source, stasiun vegetated memiliki
nilai fluks CO2 yang lebih rendah dibandingkan stasiun unvegetated. Hal tersebut
menunjukkan bahwa lamun memiliki peranan dalam menyerap dan mengurangi
karbon anorganik perairan. Hasil analisis PCA menunjukkan fluks CO2 di perairan
Jepara dan Karimunjawa saat musim timur dan barat memiliki korelasi positif
sangat kuat signifikan dengan kwa. Selain kwa, variabel pCO2sea dan ?pCO2
berkorelasi positif kuat signifikan dan SPL negatif kuat signifikan.
Hasil pemodelan MITgcm menunjukkan bahwa nilai fluks CO2 pada daerah studi
bervariasi terhadap musim dengan fluks CO2 tertinggi pada musim timur
(0,208±0,079 molC m–2
th–1
) dan terendah pada musim barat (0,016±0,133 molC
m–2
th–1
). Hasil model mampu menjelaskan tingginya fluks CO2 di Karimujawa
yang diakibatkan oleh konsentrasi dissolved inorganic carbon yang lebih tinggi dari
tambahan source carbonate. Variabilitas biogeokimia dan fluks CO2 di wilayah
studi ini dipengaruhi oleh faktor musiman, yaitu perubahan arah arus, kecepatan
angin, SPL, dan salinitas secara musiman. Pada musim barat dengan kecepatan
angin menguat sehingga terjadi pelemahan stratifikasi bahkan tidak terdapat
kedalaman mixed layer depth artinya tidak terdapat stratifikasi yang menyebabkan
terjadinya percampuran massa air secara vertikal dari perairan dalam ke permukaan
yang menyebabkan terjadinya penurunan suhu perairan, peningkatan nutrien (PO4
tinggi) dan peningkatan produksi fitoplankton ditandai dengan Dissolved Oxygen
Phosphate (DOP) dan Dissolved Oxygen (DO) yang tinggi. Sementara itu, pada
musim timur dengan kecepatan angin melemah tidak mampu untuk melakukan
pencampuran vertikal sehingga terjadi peningkatan suhu perairan, terhambatnya
masukan nutrisi secara vertikal ke lapisan mixed layer (fosfat rendah) yang
mengakibatkan terjadi penurunan produksi fitoplankton (ditandai dengan DOP dan
DO yang rendah). Sementara itu, variabilitas antartahunan (El Niño-Southern
Oscillation) tidak memiliki pengaruh signifikan. Adapun kebaruan dari penelitian
ini adalah diperolehnya kajian komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi
pengendapan OCS-SG dan OCS-S serta fluks CO2 di perairan Jepara dan
Karimunjawa menggunakan data observasi dan model MITgcm serta keterbatasan
dalam pengambilan data observasi dapat terjelaskan dari hasil model MITgcm.
Perpustakaan Digital ITB