Penggunaan immune checkpoint inhibitor (ICI) dapat menyebabkan immune-related adverse events
(irAE) yang berpengaruh terhadap keselamatan pasien, sehingga perlu dievaluasi profil
keamanannya menggunakan real-world data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian
irAE pada penggunaan pembrolizumab, atezolizumab, dan tislelizumab berdasarkan database FDA
Adverse Event Reporting System (FAERS) tahun 2025. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif
untuk menggambarkan karakteristik laporan dan pola irAE, serta analisis disproportionalitas
menggunakan Reporting Odds Ratio (ROR) untuk mendeteksi sinyal keamanan. Sebanyak 1.351
laporan pasien kanker yang memenuhi kriteria inklusi berhasil dianalisis dalam penelitian ini.
Kejadian irAE paling banyak dilaporkan dari wilayah Eropa (70,74%), pada kelompok usia 40-59
tahun (66,54%), dan pada pasien kanker paru (38,64%). Gangguan kulit dan jaringan subkutan
merupakan klasifikasi sistem organ irAE yang paling sering dilaporkan, serta mayoritas kejadian irAE
tergolong serius (94,12%). Analisis berdasarkan karakteristik pasien menunjukkan variasi distribusi
irAE menurut jenis kelamin, usia, jenis kanker, dan wilayah pelaporan. Pembrolizumab dan
tislelizumab paling sering dikaitkan dengan gangguan kulit dan jaringan subkutan, sedangkan
atezolizumab memiliki pola yang lebih bervariasi. Hasil analisis disproportionalitas menunjukkan
bahwa pembrolizumab memiliki sinyal yang lebih kuat terhadap acute kidney injury, sedangkan
tislelizumab menunjukkan sinyal yang lebih kuat terhadap pruritus serta beberapa irAE
dermatologis, hepatik, pulmoner, dan hematologis. Sebaliknya, atezolizumab menunjukkan sinyal
yang lebih kuat terhadap beberapa irAE kardiovaskular, hematologis, dan gastrointestinal. Secara
keseluruhan, ketiga ICI menunjukkan pola irAE dan sinyal keamanan yang berbeda, sehingga
pemantauan keamanan pasien perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing obat.
Perpustakaan Digital ITB