digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penggunaan immune checkpoint inhibitor (ICI) dapat menyebabkan immune-related adverse events (irAE) yang berpengaruh terhadap keselamatan pasien, sehingga perlu dievaluasi profil keamanannya menggunakan real-world data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian irAE pada penggunaan pembrolizumab, atezolizumab, dan tislelizumab berdasarkan database FDA Adverse Event Reporting System (FAERS) tahun 2025. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik laporan dan pola irAE, serta analisis disproportionalitas menggunakan Reporting Odds Ratio (ROR) untuk mendeteksi sinyal keamanan. Sebanyak 1.351 laporan pasien kanker yang memenuhi kriteria inklusi berhasil dianalisis dalam penelitian ini. Kejadian irAE paling banyak dilaporkan dari wilayah Eropa (70,74%), pada kelompok usia 40-59 tahun (66,54%), dan pada pasien kanker paru (38,64%). Gangguan kulit dan jaringan subkutan merupakan klasifikasi sistem organ irAE yang paling sering dilaporkan, serta mayoritas kejadian irAE tergolong serius (94,12%). Analisis berdasarkan karakteristik pasien menunjukkan variasi distribusi irAE menurut jenis kelamin, usia, jenis kanker, dan wilayah pelaporan. Pembrolizumab dan tislelizumab paling sering dikaitkan dengan gangguan kulit dan jaringan subkutan, sedangkan atezolizumab memiliki pola yang lebih bervariasi. Hasil analisis disproportionalitas menunjukkan bahwa pembrolizumab memiliki sinyal yang lebih kuat terhadap acute kidney injury, sedangkan tislelizumab menunjukkan sinyal yang lebih kuat terhadap pruritus serta beberapa irAE dermatologis, hepatik, pulmoner, dan hematologis. Sebaliknya, atezolizumab menunjukkan sinyal yang lebih kuat terhadap beberapa irAE kardiovaskular, hematologis, dan gastrointestinal. Secara keseluruhan, ketiga ICI menunjukkan pola irAE dan sinyal keamanan yang berbeda, sehingga pemantauan keamanan pasien perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing obat.