Vanili (Vanilla planifolia) merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomi
tinggi yang memiliki potensi besar di pasar global, khususnya untuk segmen
organik. Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok, memiliki
potensi pengembangan vanili organik, namun dihadapkan pada tantangan
produktivitas yang rendah, fluktuasi harga, dan kerentanan terhadap perubahan
iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan produksi
vanili organik, mengidentifikasi peran dan hubungan antar stakeholder, serta
merumuskan strategi pengembangan yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan di
Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur menggunakan metode campuran
(mixed method). Analisis keberlanjutan dilakukan menggunakan Multiaspect
Sustainability Analysis (MSA) pada lima dimensi (lingkungan, ekonomi, sosial,
kelembagaan, teknologi). Peran aktor dianalisis menggunakan metode MACTOR
(Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives, and Recommendations), dan
perumusan strategi dilakukan melalui Analisis Prospektif. Hasil analisis
menunjukkan bahwa status keberlanjutan produksi vanili organik secara agregat
adalah berkelanjutan dengan indeks 78,93. Dimensi lingkungan memiliki indeks
tertinggi (94,50), sedangkan dimensi teknologi memiliki indeks terendah (47,57)
dan berstatus kurang berkelanjutan, menjadi faktor pembatas utama. Analisis
stakeholder menempatkan UD. Rempah Organik Lombok dan ICS sebagai aktor
dominan, sementara petani berada pada posisi dependen. Faktor kunci penentu
keberlanjutan di masa depan adalah dukungan dan peran pemerintah, penggunaan
benih unggul, adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, produktivitas,
inovasi teknologi, tingkat adopsi GAP dan pascapanen vanili. Strategi prioritas
yang dirumuskan adalah mendorong kebijakan daerah untuk menetapkan vanili
sebagai komoditas unggulan dan penyediaan kebun induk benih unggul untuk
meningkatkan produktivitas dan adopsi teknologi.
Perpustakaan Digital ITB