digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Vanili (Vanilla planifolia) merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi yang memiliki potensi besar di pasar global, khususnya untuk segmen organik. Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok, memiliki potensi pengembangan vanili organik, namun dihadapkan pada tantangan produktivitas yang rendah, fluktuasi harga, dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan produksi vanili organik, mengidentifikasi peran dan hubungan antar stakeholder, serta merumuskan strategi pengembangan yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur menggunakan metode campuran (mixed method). Analisis keberlanjutan dilakukan menggunakan Multiaspect Sustainability Analysis (MSA) pada lima dimensi (lingkungan, ekonomi, sosial, kelembagaan, teknologi). Peran aktor dianalisis menggunakan metode MACTOR (Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives, and Recommendations), dan perumusan strategi dilakukan melalui Analisis Prospektif. Hasil analisis menunjukkan bahwa status keberlanjutan produksi vanili organik secara agregat adalah berkelanjutan dengan indeks 78,93. Dimensi lingkungan memiliki indeks tertinggi (94,50), sedangkan dimensi teknologi memiliki indeks terendah (47,57) dan berstatus kurang berkelanjutan, menjadi faktor pembatas utama. Analisis stakeholder menempatkan UD. Rempah Organik Lombok dan ICS sebagai aktor dominan, sementara petani berada pada posisi dependen. Faktor kunci penentu keberlanjutan di masa depan adalah dukungan dan peran pemerintah, penggunaan benih unggul, adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, produktivitas, inovasi teknologi, tingkat adopsi GAP dan pascapanen vanili. Strategi prioritas yang dirumuskan adalah mendorong kebijakan daerah untuk menetapkan vanili sebagai komoditas unggulan dan penyediaan kebun induk benih unggul untuk meningkatkan produktivitas dan adopsi teknologi.