digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Transformasi digital telah menjadi prioritas strategis dalam industri perbankan karena perkembangan teknologi, perubahan perilaku nasabah, serta meningkatnya tuntutan regulasi dan persaingan mengharuskan bank melaksanakan inisiatif digital secara konsisten pada seluruh tingkat organisasi. Keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan platform digital atau besarnya investasi teknologi. Keberhasilan tersebut juga bergantung pada kesiapan organisasi dalam mengelola perubahan, tingkat kematangan kapabilitas digital, kemampuan menghasilkan dan menerapkan inovasi, serta keselarasan antara teknologi, pegawai, struktur organisasi, dan proses operasional. BNI terus mengembangkan layanan dan infrastruktur digital, termasuk peluncuran wondr by BNI. Namun, pengembangan digital pada tingkat korporasi harus diterjemahkan menjadi pelaksanaan yang efektif pada tingkat wilayah dan operasional. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis kapabilitas strategis yang memengaruhi Digital Transformation Execution Performance di BNI Wilayah 15, dengan menempatkan Sociotechnical Alignment sebagai determinan langsung dan mekanisme mediasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif eksplanatori. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang didistribusikan kepada 153 pegawai BNI Wilayah 15 yang menggunakan, mendukung, mengelola, atau terlibat dalam sistem digital dan inisiatif transformasi digital. Responden dipilih menggunakan purposive sampling berdasarkan pengalaman operasional yang relevan. Model penelitian terdiri atas lima konstruk laten, yaitu Organizational Readiness, Digital Maturity, Innovation Capability, Sociotechnical Alignment, dan Digital Transformation Execution Performance. Organizational Readiness, Digital Maturity, dan Innovation Capability diposisikan sebagai variabel eksogen, Sociotechnical Alignment sebagai variabel mediasi, sedangkan Digital Transformation Execution Performance sebagai variabel endogen utama. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk mengevaluasi model pengukuran, model struktural, tujuh hubungan langsung, dan tiga hubungan mediasi yang sesuai dengan sepuluh pertanyaan penelitian dan hipotesis. Hasil model pengukuran menunjukkan bahwa seluruh indikator dan konstruk memenuhi persyaratan reliabilitas indikator, validitas konvergen, validitas diskriminan, reliabilitas konsistensi internal, dan evaluasi kolinearitas. Model struktural mampu menjelaskan 64,9% variasi Sociotechnical Alignment dan 77,9% variasi Digital Transformation Execution Performance. Organizational Readiness, Digital Maturity, dan Innovation Capability berpengaruh positif dan signifikan terhadap Sociotechnical Alignment dengan koefisien jalur masing-masing sebesar 0,271, 0,297, dan 0,258. Organizational Readiness, Digital Maturity, Innovation Capability, dan Sociotechnical Alignment juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Digital Transformation Execution Performance dengan koefisien jalur masing-masing sebesar 0,289, 0,241, 0,276, dan 0,244. Dengan demikian, seluruh tujuh hipotesis pengaruh langsung didukung. Analisis mediasi menunjukkan bahwa Sociotechnical Alignment secara signifikan memediasi pengaruh Organizational Readiness, Digital Maturity, dan Innovation Capability terhadap Digital Transformation Execution Performance dengan koefisien pengaruh tidak langsung masing-masing sebesar 0,066, 0,072, dan 0,063. Karena pengaruh langsung yang bersesuaian tetap signifikan, ketiga hubungan mediasi tersebut menunjukkan complementary partial mediation. Secara keseluruhan, seluruh sepuluh hipotesis didukung. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan transformasi digital di BNI Wilayah 15 tidak dapat diperkuat hanya melalui investasi teknologi. Manajemen perlu secara simultan meningkatkan dukungan kepemimpinan dan kesiapan perubahan, tata kelola serta integrasi sistem digital, kemampuan implementasi inovasi, dan kesesuaian antara sistem digital dengan kebutuhan pekerjaan aktual. Penguatan tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan implementasi dan mendorong pelaksanaan transformasi digital yang lebih konsisten pada seluruh unit organisasi.