Penelitian ini mengevaluasi kelayakan investasi, risiko, dan Value for
Money (VfM) proyek KPBU LRT Bandung. Pemodelan finansial
menunjukkan skema User Payment (UP) tidak layak bagi badan usaha—
menghasilkan Net Present Value (NPV) -Rp1,76 Triliun, Internal Rate of
Return (IRR) 8,913%, dan Benefit-Cost Ratio (BCR) 0,87—meskipun
didukung Transit Oriented Development (TOD) dan Viability Gap Fund
(VGF) 49%. Skema UP baru layak jika VGF mencapai 55% (Rp4,43
Triliun). Sebaliknya, skema Availability Payment (AP) terbukti layak
(bankable) dengan anuitas Rp1,63 Triliun per tahun untuk mencapai NPV
positif, IRR 10,2%, dan BCR 1,00. Melalui kompensasi pendapatan tiket
dan TOD yang dikelola pemerintah, beban aktual tahunan dapat ditekan
menjadi Rp841,5 Miliar. Penilaian pakar atas 22 variabel risiko
menunjukkan dominasi risiko menengah-tinggi, dengan Risiko Lokasi
berstatus sangat tinggi. Kuantifikasi risiko mencatatkan Transferable Risk
sebesar Rp3,336 Triliun dan Retained Risk sebesar Rp3,98 Triliun.
Selanjutnya, analisis VfM membuktikan pengadaan KPBU lebih efisien
dibandingkan metode konvensional, menghasilkan VfM positif Rp600,3
Miliar (2,94%) dari selisih Public Sector Comparator (Rp20,439 Triliun)
dan Shadow Bid (Rp19,893 Triliun). Pada akhirnya, skema AP
direkomendasikan karena terbukti menjamin bankability proyek sekaligus
memberikan penghematan anggaran pemerintah yang signifikan melalui
transfer risiko secara optimal.
Perpustakaan Digital ITB