digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Hendri Pramono
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Industri konstruksi mengalami stagnasi produktivitas serta rentan terhadap cost overrun dan keterlambatan jadwal, salah satunya diakibatkan oleh manajemen proyek konvensional (PERT/CPM) yang berfokus pada scheduling namun mengabaikan manajemen operasi. Project Production Management (PPM) hadir sebagai pendekatan alternatif yang mempertimbangkan variabilitas, inventory, dan capacity sebagai buffer pengendali ketidakpastian melalui operation science. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan timbal balik antara variabilitas, inventory, dan capacity terhadap Work in Process (WIP), Throughput, dan Cycle Time, serta menganalisis aplikasi dan makna PPM dalam pekerjaan konstruksi. Penelitian dilakukan melalui pemodelan dan simulasi Discrete Event Simulation (DES) berbasis perangkat lunak Simulink pada dua jenis pekerjaan, yaitu earth working dan struktur atas (kolom, balok, dan pelat), dengan total 27 skenario kombinasi tiga level variabilitas (Coefficient of Variation), inventory buffer, dan tingkat capacity untuk masing-masing pekerjaan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa hubungan ketiga variabel bersifat non-linear dan sangat bergantung pada lokasi bottleneck sistem produksi. Pada kasus earth working, capacity merupakan bottleneck sehingga penambahannya efektif meningkatkan Throughput dan menurunkan Cycle Time, sedangkan pada struktur atas capacity bukan bottleneck sehingga penambahannya hanya menurunkan utilisasi tanpa memengaruhi WIP maupun Throughput. Penambahan inventory pada kedua pekerjaan konsisten meningkatkan WIP dan Cycle Time tanpa meningkatkan Throughput, sementara variabilitas terutama terserap oleh Cycle Time sebagai buffer waktu, sejalan dengan konsep The Buffer Triangle dari Project Production Institute. Temuan ini menegaskan bahwa strategi buffer yang efektif harus disesuaikan dengan karakteristik bottleneck masing-masing aktivitas, dan bahwa pendekatan DES berbasis Simulink dapat menjadi alat bantu pengambilan keputusan operasional yang lebih komprehensif dibandingkan manajemen proyek konvensional.