Tanah ekspansif merupakan tanah bermasalah yang mengalami perubahan volume
akibat perubahan kadar air sehingga dapat memengaruhi kestabilan daya dukung
konstruksi, khususnya pada lapisan tanah dasar perkerasan. Penggunaan
biopolimer, termasuk kitosan, menjadi salah satu alternatif material stabilisasi yang
berpotensi memberikan perbaikan sifat teknis tanah dengan pendekatan yang lebih
berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh nano-kitosan
terhadap karakteristik tanah ekspansif, membandingkan penggunaan nano-kitosan
dalam bentuk bubuk dan larutan, mengkaji pengaruh Sodium Tripolyphosphate
(STPP) sebagai agen crosslinking, serta mengevaluasi pengaruh waktu pemeraman
terhadap karakteristik tanah setelah stabilisasi. Penelitian dilakukan melalui
pengujian laboratorium menggunakan tanah ekspansif terganggu yang diambil dari
proyek Tol Jakarta Cikampek Selatan II STA 29+000, Sukabungah. Parameter
yang dianalisis meliputi indeks plastisitas, swelling potential, swelling pressure,
karakteristik pemadatan, dan California Bearing Ratio (CBR). Tahap awal
dilakukan screening kadar nano-kitosan sebesar 0,05 1,0% berdasarkan perubahan
indeks plastisitas, kemudian pengujian lanjutan dilakukan menggunakan nanokitosan
dalam bentuk dry chitosan dan wet chitosan. Pada sistem wet chitosan,
STPP ditambahkan sebesar 10% dan 20% terhadap kadar nano-kitosan. Pengujian
dilakukan pada waktu pemeraman 0, 1, 7, 14, dan 28 hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh nano-kitosan paling jelas terlihat
pada plastisitas dan karakteristik swelling. Tanah asli memiliki Plasticity Index (PI)
sebesar 74,37%. Pada tahap screening, wet chitosan dengan kadar nano-kitosan
0,1% menghasilkan PI sebesar 68,05%, atau mengalami penurunan sebesar 8,50%
dibandingkan tanah asli, dan digunakan sebagai kadar yang representatif untuk
pengujian lanjutan. Pada pemeraman hari pertama, swelling potential tanah asli
sebesar 19,37% menurun menjadi 11,78% pada dry chitosan dan 11,69% pada wet
chitosan, masing-masing menunjukkan penurunan sebesar 39,19% dan 39,65%.
ii
Swelling pressure juga menurun dari 415,20 kPa menjadi 329,49 kPa pada dry
chitosan dan 303,63 kPa pada wet chitosan, masing-masing sebesar 20,64% dan
26,88%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa bentuk aplikasi nano-kitosan tidak
memberikan perbedaan yang besar terhadap swelling potential, sementara aplikasi
dalam bentuk larutan menghasilkan penurunan swelling pressure yang sedikit lebih
besar.
Penambahan STPP memberikan perubahan terhadap karakteristik swelling dan
CBR, tetapi peningkatan kadar STPP tidak menunjukkan hubungan yang linear
terhadap kinerja tanah. Pada pemeraman hari pertama, wet chitosan STPP 20%
menghasilkan swelling potential sebesar 11,20%, lebih rendah dibandingkan wet
chitosan sebesar 11,69%, sedangkan STPP 10% justru meningkatkan swelling
potential menjadi 14,01%. Swelling pressure pada STPP 20% juga menurun
menjadi 257,21 kPa atau sebesar 15,29%, dibandingkan dengan wet chitosan
sebesar 303,63 kPa. Pada pengujian CBR, pengaruh nano-kitosan dan STPP lebih
terlihat pada kondisi unsoaked, sedangkan pada kondisi soaked respons CBR
selama pemeraman cenderung berfluktuasi dan belum menunjukkan pola
peningkatan yang konsisten.
Waktu pemeraman juga memengaruhi respons swelling, yang telah terlihat sejak
hari pertama dan pada beberapa sistem berlangsung cukup besar hingga hari ke-7.
Karakterisasi SEM menunjukkan terbentuknya agregasi partikel yang lebih besar
setelah perlakuan wet chitosan STPP, sedangkan pola XRD relatif serupa antara
tanah asli dan tanah perlakuan sehingga tidak menunjukkan perubahan mineralogi
yang besar.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa nano-kitosan
memberikan pengaruh yang lebih konsisten terhadap plastisitas dan swelling,
sementara respons CBR lebih dipengaruhi oleh kondisi kadar air dan waktu
pemeraman. Hasil ini memberikan pemahaman mengenai respons tanah ekspansif
terhadap penggunaan nano-kitosan STPP dan dapat menjadi pertimbangan dalam
pengembangan stabilisasi lebih lanjut, khususnya terkait optimasi kadar STPP,
kondisi kadar air, dan waktu pemeraman. Efektivitas nano-kitosan dan STPP juga
dengan demikian perlu dinilai dengan mempertimbangkan jenis parameter yang
diuji, bentuk aplikasi, waktu pemeraman, dan terutama kondisi kadar air saat
pengujian, bukan hanya berdasarkan peningkatan daya dukung.
Perpustakaan Digital ITB