Pekerjaan rigid pavement merupakan salah satu pekerjaan utama pada pembangunan jalan tol yang memerlukan stabilitas suplai beton, koordinasi sumber daya, serta pengendalian aktivitas lapangan agar produktivitas tetap optimal. Berbagai kendala selama pelaksanaan, khususnya aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (waste), berpotensi menurunkan produktivitas pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik produktivitas pekerjaan rigid pavement, mengidentifikasi waste yang terjadi selama pelaksanaan, mengevaluasi pengaruh konfigurasi sumber daya terhadap produktivitas pekerjaan serta memberikan rekomendasi peningkatan produktivitas dan pengurangan waste pada pekerjaan rigid pavement.
Penelitian dilakukan pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Ruas Rengat–Pekanbaru (Junction Pekanbaru–Bypass Pekanbaru) dengan menggunakan pendekatan observasi lapangan. Data diperoleh dari 19 sampel pengecoran yang terdiri atas 346 siklus dump truck. Produktivitas dihitung berdasarkan volume beton terhadap waktu pelaksanaan, sedangkan waste diidentifikasi menggunakan pendekatan Lean Construction berupa waiting. Analisis statistik dilakukan menggunakan nilai rata-rata, median, standar deviasi, serta coefficient of variation (CV) untuk mengetahui hubungan antara waste ratio dan produktivitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas aktual berkisar antara 0,178–0,759 m³/menit dengan rata-rata 0,524 m³/menit, sedangkan waste ratio rata-rata sebesar 8,17%. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin kecil waste, maka produktivitas cenderung semakin efisien, sehingga mendukung Transformation–Flow–Value (TFV) Theory of Production yang dikemukakan oleh Koskela (2000), yaitu bahwa peningkatan efisiensi produksi dapat dicapai melalui pengurangan pemborosan (waste). Penghapusan waste memiliki potensi kenaikan produktivitas sebesar 9,7%. Namun demikian, produktivitas rigid pavement tidak hanya dipengaruhi oleh waste, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti panjang pengecoran, volume beton per siklus, proporsi waktu slump test, proporsi waktu finishing, stabilitas proses, serta konfigurasi batching plant, alat paver, dan tenaga kerja.
ii
Analisis konfigurasi sumber daya yang menunjukkan kombinasi batching plant, alat concrete paver dan tenaga kerja terbaik menghasilkan produktivitas tertinggi sebesar 0,662 m³/menit, dengan waste ratio 7,20%, finishing ratio 17,25%, dan coefficient of variation 32%, sehingga menjadi konfigurasi yang paling efektif dan stabil. Analisis kinerja terendah pada sumber daya batching plant menghasilkan waste ratio rata – rata 9,01% dan coefficient of variation 44% dan 52%, kemudian untuk sumber daya tenaga kerja terendah menghasilkan finishing ratio 24,74%. Selain itu, siklus pengecoran dengan volume 10 m³ memberikan produktivitas rata-rata tertinggi dibandingkan volume 4 m³ dan 8 m³.
Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan panjang pengecoran minimal 50 meter, penerapan volume pengecoran 10 m³ per siklus, penggunaan konfigurasi sumber daya terbaik secara dominan, evaluasi berkala terhadap batching plant dan dump truck dengan kinerja terbaik, evaluasi perbaikan terhada batching plan dengan kinerja terendah serta peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui refreshment metode kerja. Rekomendasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi waste, menjaga kestabilan proses, serta meningkatkan efisiensi pelaksanaan pekerjaan rigid pavement
Perpustakaan Digital ITB